|
Bab 1 Tata Cara Shalat
Rasulullah S.A.W. Oleh: Dr. KH. Marhadi Muhayr, Lc.,
M.A. |
- BERWUDHU
Sebelum mengerjakan shalat, Rasulullah
s.a.w. berwudhu terlebih dahulu. Karena wudhu merupakan salah satu syarat dari
syarat-syarat sahnya shalat.[1]
Tata Cara Wudhu:
1. Membaca bismillah dan niat
untuk wudhu.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَا أَبَا هُرَيْرَةَ إِذَا تَوَضَّأْتَ فَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ فَإِنَّ حَفَظَتَكَ لَا تَزَالُ تَكْتُبُ لَكَ الْحَسَنَاتِ حَتَّى
تُحْدِثَ مِنْ ذَلِكَ الْوُضُوءِ.
Rasulullah s.a.w.
bersabda, “Wahai Abu Hurairah, jika kamu berwudhu ucapkanlah (sebelum berwudhu)
‘bismillah walhamdu lillah’, sesungguhnya malaikat penjagamu masih senantiasa
mecatatkan kebaikan-kebaikan untukmu sampai wudhumu itu batal.” (Hadis sahih riwayat
ath-Thabarāni dalam ash-Shaghīr
dan Imam Baihāqi dari Imam Syāfi’i)
Imam ad-Dabbusi berkata,
"Yang lebih afdhal mengucapkan 'bismillāhirrahmānirrahīm'.[2]
Al-‘Allāmah al-Syaikh
Muhammad Thāhir dalam kitabnya Takmilah Majma’ al-Bihar juga
mengatakan hal senada, dia berkata, “Yang lebih sempurna mengucapkan 'bismillāhirrahmānirrahīm'.[3]
2. Mencuci kedua telapak tangan
(bagian depan dan belakang) sampai pergelangan, hingga bersih dari noda dan
kotoran.
3. Membersihkan mulut dengan
berkumur-kumur, atau dengan gosok gigi, atau pun siwak.[4]
4. Membersihkan lubang hidung
dengan memasukan air ke dalamnya, menghirupnya, lalu mengeluarkannya.
5. Mencuci seluruh wajah,
hingga bersih dari noda dan kotoran.
6. Mencuci kedua tangan sampai
kedua siku, hingga bersih dari noda dan kotoran.
7. Mengusap kepala dengan
tangan yang terbasahi dengan air baru (suci).
8. Mencuci kedua kaki sampai
tumit, hingga bersih dari noda dan kotoran.
9. Tertib. Seluruh rangkaian wudhu dilaksanakan secara
berurutan dari nomor 1 sampai dengan delapan.
10. Berkelanjutan (muwâlât). Tidak diselingi oleh aktifitas lain dan atau jeda waktu
yang terlalu lama, sehingga air basuhan pada anggota whudhu menjadi kering akibat terlalu lama berselang. Jika
demikian, sebagian besar ulama menyatakan, wudhunya harus diulangi.[5]
Perintah untuk berwudhu sebelum shalat berdasarkan firman Allah
s.w.t. dan sabda Rasul-Nya s.a.w. di bawah ini:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى
الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا
بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا
فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ
مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً
فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ
مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ
وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ. (المائدة: ٦)
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak
mengerjakan shalat, maka cucilah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku,
dan sapulah kepalamu dan (cuci) kakimu sampai dengan kedua mata kaki,
dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit[6] atau dalam
perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh[7] perempuan,
lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik
(bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak
menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan
nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Maidah
[5]: 6)
لَا
تُقْبَلُ صَلَاةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ (رواه
البخاري ومسلم واللفظ له
والترمذي)
“Shalat tidak
diterima (tidak sah) tanpa bersuci.” (HR. Bukhari,
Muslim, Tirmidzi dan lainnya).[8]
Rasulullah s.a.w. tidak pernah
mengerjakan shalat kecuali dalam keadaan suci (thâhir), baik dari hadats
besar –yaitu: junub, haidh dan nifas (bagi wanita)–, maupun dari hadats kecil –yaitu keluar sesuatu dari
lubang kubul (kemaluan depan) seperti: kencing, keluar madzi dan madi, atau
dari lubang dubur (kemaluan belakang) seperti: buang angin dan buang hajat.
Hadats besar akan terangkat dengan
mandi, sedangkan hadats kecil cukup dengan wudhu dan membersihkan najis
tersebut jika ada. Begitu juga dengan tempat shalat, pakaian dan badan orang
yang akan shalat harus suci daripada najis, serta menutup auratnya.
Berdoa Setelah Wudhu
Setelah selesai dari mengerjakan wudhu,
disunnahkan membaca doa seperti ini:
أَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي
مِنْ الْمُتَطَهِّرِينَ.
ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAWLOOH WAHDAHU LAA SYARIIKALAH WA
ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA ROSUULUH, AWLOOHUMMA J’ALNII MINA
T-TAWWAABIINA WA J’ALNII MINA L-MUTATHOHHIRIIN
“Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah semata, tidak ada sekutu
bagi-Nya. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Ya Allah,
jadikanlah aku termasuk orang-orang yang kembali (bersih tanpa dosa), dan
jadikanlah aku termasuk orang-orang yang disucikan.”
Sebagaimana itu
diperintahkan oleh Rasulullah s.a.w. dalam hadis shahih riwayat Imam Muslim dan
imam-imam lainnya:
مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ
ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ
التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي مِنْ الْمُتَطَهِّرِينَ فُتِحَتْ لَهُ ثَمَانِيَةُ
أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَدْخُلُ مِنْ
أَيِّهَا شَاءَ (رواه مسلم وأبو داود والترمذي والشافعي وأحمد وغيرهم)
“Barang siapa yang memperbaiki wudhunya, lalu mengucapkan ‘Aku bersaksi
bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku
bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku
termasuk orang-orang yang kembali (bersih tanpa dosa), dan jadikanlah aku
termasuk orang-orang yang disucikan.’ Maka akan dibukakan untuknya 8 pintu
surga, untuk ia masuki dari pintu mana saja yang ia suka.” (HR. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Syafi’i, Ahmad dan lainnya)[9]
[1] Syarat-syarat sah shalat ada 11 yaitu: suci dari hadas, suci
tempat, suci pakaian dan diri, menutup aurat, telah masuk waktu, menghadap
kiblat, niat, dilakukan dengan tertib dari takbir sampai salam, ada kemampuan, muslim dan berakal. Lihat: Hasyiyah Raddi l-Mukhtar
jilid 1 h. 432, Hasyiyah ad-Dasuki ‘ala Syarh al-Kabir jilid 2 h. 245, al-Majmu
jilid 2 h. 277-278, Maktabah Syamilah.
[2] Badr al-Din al-'Aini
al-Hanafi (W 855 H), al-Binayah Syarh al-Hidayah (Beirut: Dar al-Kutuh
al-'Ilmiyah, 2000), 1; 194.
[3] al-Azhim Abadi, ‘Aun al-Ma'bud Syarh Sunan Abi Daud (Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyah 1415 H), 1:121.
[4] Terkait siwak, Nabi s.a.w.
bersabda, “Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan
mereka untuk bersiwak setiap kali berwhudhu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
[5] Ibn Athīr (W 606 H), al-Syaafi fi Syarh Musnad al-Syafi'i,
tahqiq Ahmad ibn Sulaiman (Riyadh: Maktabah al-Rusyd, 2005), 1:2005.
[6] Maksudnya:
sakit yang tidak boleh kena air.
[7] ‘Menyentuh’ menurut Jumhur Ulama adalah menyentuh kulit lawan jenis.
Sedangkan menurut sebagian mufassirin, maksud menyentuh disitu adalah
menyetubuhi.
[8] Shahih Bukhari: bab La Tuqbalu Shalatun bi ghairi
Thahur 1/232 no. 132, Shahih Muslim: bab Wujubu th-Thaharah li sh-Shalah
2/5 no. 329, Sunan at-Tirmidzi: bab Ma Ja`a la Tuqbalu Shalatun bi ghairi
Thahur 1/3 no. 1.
[9] Shahih Muslim: bab adz-Dzikr ul-Mustahab ‘uqba
l-Whudhu 2/25 no. 345, Shahih Ibnu Hibban: bab Fadhlu l-Wudhu 5/96
no. 1056, Shahih Ibnu Khuzaimah: bab Jama’ Abwab Fudhuli t-Tathhir 1/410
no. 1056. Sunan Abu Daud: Ma Yaqulu r-Rajul idza Tawadha`a 1/210 no.
145. Musnad Ahmad: bab Hadits ‘Uqbah bin ‘Amir al-Juhni 35/186 no.
16676, 16723, 16725. Albani menshahihkan hadis ini dalam Irwau l-Ghalil 1/29
no. 96 dan dalam Shahihu t-Targhib wa t-Tarhib pada pembahasan: at-Targhib
fi Kalimat Yaquluhunna ba’da l-Wudhu 1/54 no. 224, sebagai perhatian buat
para pengikut Salafi Wahabi yang menganggap amalan ini sebagai bid’ah.
Artikel, Makalah dan Informasi
0 komentar:
Posting Komentar