Minggu, 26 April 2026

3.      MENGHADAP KE ARAH KIBLAT DAN BERDIRI DALAM SHALAT FARDHU

Oleh: Dr. KH. Marhadi Muhayar, Lc., M.A.

 

Setelah memantapkan niat shalat, langkah berikutnya adalah berdiri menghadap Kiblat. Bila tidak mampu berdiri, maka boleh duduk. Bila tidak mampu duduk, maka dengan berbaring, dan jika tidak mampu menggerakkan anggota badan maka boleh dengan isyarat. Bila tidak mampu dengan isyarat, maka dengan hati.

Kiblat umat Islam dalam shalat sebagaimana petunjuk Nabi s.a.w. adalah, Ka’bah al-Musyarrafah yang ada di dalam kawasan Masjid al-Haram di kota Makkah Al-Mukarramah, Jazirah Arab.

Dalam shalat fardhu, shalat mesti dilakukan menghadap kiblat sambil berdiri, kecuali jika tidak mampu. Adapun dalam shalat sunnah, boleh dilakukan dengan duduk dan lebih afdhal jika dilakukan dengan berdiri. Allah S.w.t. berfirman:

...وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ (البقرة [٢]: ٢٣٨)

“…Dan berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 238).

Rasulullah s.a.w. bersabda:

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَأَسْبِغْ الْوُضُوءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ... (رواه البخاري ومسلم )

“Jika kamu akan berdiri untuk shalat, maka sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadap kiblat, lalu bertakbirlah...” (HR. Bukhari, Muslim dan lainnya).[1]

Tata Cara Berdiri dalam Shalat:

1.   Tidak melebarkan kedua kakinya saat berdiri, melainkan sedikit saja. Lihat gambar no………

Terkait ukuran/jarak antara kedua kaki (kaki kanan dengan kaki kiri) saat berdiri shalat, tokoh ulama Salaf tulen[2] dan seorang Tabi’in; Imam Abu Hanifah (gurunya para Imam Mazhab yang lahir tahun 80 Hijriyah dan wafat tahun 150 Hijriyah) mengatakan, jaraknya “sekitar 4 (empat) jari tangan”.[3] Begitu juga dengan Imam Syafi’i. Beliau menambahkan, “maksimalnya sejengkal telapak tangan, tidak lebih.”[4] Imam Malik, Imam Ibnu Mundzir dan Imam-imam Fikih lainnya juga berpendapat sama.[5] Lihat gambar no. …….. Hal itu berdasarkan beberapa riwayat yang menyatakan:

قَالَ الْأَثْرَمُ: أَخْطَأَ السُّنَّةَ لَوْ رَاوَحَ بَيْنَهُمَا كَانَ أَعْجَبُ. رَأَيْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ يُفَرِّجُ بَيْنَ قَدَمَيْهِ وَرَأَيْتُهُ يُرَاوِحُ بَيْنَهُمَا. وَرَوَاهُ النَّسَائِيُّ وَفِيهِ: (وَتُكْرَهُ كَثْرَتُهُ) أَيْ: كَثْرَةُ أَنْ يُرَاوِحَ بَيْنَ قَدَمَيْهِ؛ لِأَنَّهُ يُشْبِهُ تَمَايُلَ الْيَهُودِ. (رواه النسائي والبيهقي والطبراني وابن أبي شيبة وأبو الفضل)

“Atsram berkata, ‘(melebarkan kedua kaki itu) menyalahi sunnah. Seandainya dibuka sedikit saja, maka itu lebih utama. Aku melihat Abu Abdullah (ketika dia berdiri shalat) membuka kedua kakinya sedikit, dia rileks dengan sedikit membuka itu. Dalam hadis yang sama riwayat Nasa`i ada tambahan kalimat, Dan berdiri lebar itu dibenci yakni berdiri dengan mengangkangkan lebar kedua kakinya, karena perbuatan itu menyerupai berdirinya orang Yahudi.” (HR. Nasa`i, Baihaqi, Thabarani, Ibnu Abu Syaibah dan Abu al-Fadhl)[6]

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ لَا يُفَرِّجُ بَيْنَ قَدَمَيْهِ، وَلَا يَمَسُّ إحْدَاهُمَا بِالْأُخْرَى، وَلَكِنْ بَيْنَ ذَلِكَ، لَا يُقَارِبُ وَلَا يُبَاعِدُ. (رواه أحمد)

“Selalunya Ibnu Umar r.a. (ketika berdiri shalat) tidak melebarkan kedua kakinya, juga tidak menempelkan salah satu kakinya dengan kaki yang lain, melainkan di antara itu, tidak rapat sekali dan tidak lebar.” (HR. Ahmad)[7]

Para sahabat Nabi s.a.w. tidak pernah mengenal tradisi melebarkan kaki saat berdiri shalat. Sebaliknya, malah mereka terbiasa melakukan shalat dengan merapatkan kedua kakinya saat berdiri, bukan malah melebarkannya seperti perbuatan sekelompok orang. Kalaupun dibuka, sedikit saja, dan inilah yang sunnah. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Nasa`i dari jalur Abu Ubaidah dan Amr ibnu Maimun:

لَوْ رَاوَحَ هَذَا بَيْنَ قَدَمَيْهِ كَانَ أَفْضَلَ. (رواه النسائي والبيهقي وابن أبي شيبة وأبو الفضل)

“Seandainya dibuka sedikit saja di antara kedua kakinya (saat berdiri), maka itu lebih utama.” (HR. Nasai dan Ibnu Abu Syaibah)[8]

عَنْ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيْمَ قَالَ رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ يُصَلِّي صَافًّا بَيْنَ قَدَمَيْهِ فِيْ مَا نَعْلَمُ (رواه ابن أبي شيبة)

“Dari Sa’d ibnu Ibrahim berkata, ‘Aku melihat Ibnu Umar shalat selalu merapatkan kedua kakinya (ke sisi dalam), itu yang kami ketahui.” (HR. Ibnu Abu Syaibah)[9]

Dari hadis-hadis di atas, nampaknya rapatnya Ibnu Umar r.a. dan para sahabat dalam berdiri shalat adalah, rapat yang tidak menempel, sebagaimana hadis sebelumnya yaitu “Ibnu Umar r.a. (ketika berdiri shalat) tidak melebarkan kedua kakinya, juga tidak menempelkan salah satu kakinya dengan kaki yang lain, melainkan di antara itu, tidak rapat sekali dan tidak lebar.” (HR. Ahmad)[10]

Di antara nama-nama para sahabat Nabi s.a.w. yang merapatkan kedua kakinya saat berdiri shalat dan riwayatnya sampai kepada kita adalah, Abdullah ibnu Umar, Ikrimah, Sayidina Hasan cucu Nabi s.a.w., Abdullah Ibnu Zubair, Muslim ibnu Yasar, al-Qasim ibnu Muhammad, Ibnu Mughaffal, dan lain sebagainya. Secara umum, mayoritas para Sahabat Nabi s.a.w. merapatkan di antara kedua kakinya saat mereka berdiri shalat. Demikian yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Syaibah dan Abdul Razzaq ash-Shan’ani dalam kitab Mushannaf mereka masing-masing.[11]

Perilaku para sahabat itu dapat dipastikan sebagai kesimpulan sekaligus pemahaman mereka dari apa yang mereka lihat sehari-hari dari cara shalat Rasulullah s.a.w.

2.   Menghadapkan jari-jemari kaki dan seluruh anggota tubuhnya (kaki, perut, dada, tangan, wajah, kepala dan lainnya) ke arah kiblat.

Terkait hal ini, dalam kitab Shahih al-Bukhari terdapat dua “bab” (pasal) secara gamblang dan jelas menyinggung tentang “Nabi s.a.w. Menghadapkan Jari-jemari Kedua Kakinya ke Arah Kiblat” ketika shalat (Bab Yastaqbilu bi Athrafi Rijlaihi l-Qiblah)[12] dan (Keutamaan Menghadap Kiblat) Bab Fadhlu Istiqbali l-Qiblah.[13]

Oleh karena itu perlu diperhatikan di sini bahwa, yang dihadapkan ke arah kiblat bukan hanya wajah, tetapi seluruh anggota tubuh yang memungkinkan untuk dihadapkan ke arah kiblat, termasuk jari-jemari, betis, dengkul, paha, perut, dada, leher, tangan, maupun kepala. Lihat gambar no. …… Seperti inilah apa yang telah dilakukan Rasulullah s.a.w. dan para Sahabatnya dalam shalat. Demikian penjelasan Ibnu Hajar dalam kitab hadisnya Fath al-Bari, sebagaimana di bawah ini:

يَسْتَقْبِل بِأَطْرَافِ رِجْلَيْهِ الْقِبْلَة (رواه البخاري) ...وَالْمُرَاد بِأَطْرَافِ رِجْلَيْهِ رُءُوس أَصَابِعهَا، وَأَرَادَ بِذِكْرِهِ هُنَا بَيَان مَشْرُوعِيَّة الِاسْتِقْبَال بِجَمِيعِ مَا يُمْكِن مِنْ الْأَعْضَاء.

“Nabi s.a.w. menghadapkan ujung-ujung kedua kakinya ke arah Kiblat”. (HR. Bukhari)[14] …Maksud dari kalimat “ujung-ujung kedua kakinya” adalah ujung jari-jemari kedua kakinya. Hal ini disebutkan untuk menjelaskan tentang disyariatkankanya menghadadapkan seluruh anggota tubuh yang memungkinkan ke arah kiblat.”[15]

Hadis-hadis lain juga menyatakan demikian, di antaranya adalah:

عَنْ طَاوُوْسٍ قَالَ: مَا رَأَيْتُ مُصَلِّيًا كَهَيْئَةِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ، أَشَدَّ اِسْتِقْبَالاً لِلْكَعْبَةِ بِوَجْهِهِ، وَكَفَّيْهِ، وَقَدَمَيْهِ. (رواه عبد الرزاق وابن رجب)

Dari Thawus berkata, “Aku tidak pernah melihat seseorang shalat (begitu sempurna) seperti bentuk shalatnya Abdullah ibnu Umar, dia sangat lurus menghadapkan wajah, kedua telapak tangan dan kedua kakinya ke Ka’bah.” (HR. Abdu ar-Razzaq dan Ibnu Rajab)[16]

كَانَ ابْنُ عُمَرُ إِذَا صَلىَّ اِسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ بِكُلِّ شَيْءٍ، حَتَّى بِنَعْلَيْهِ. (رواه وابن رجب)

“Ibnu Umar ketika shalat selalu menghadapkan segala sesuatunya ke kiblat, hingga kedua sandalnya.” (HR. Ibnu Rajab).[17]

Saat ini, cukup banyak orang shalat yang kurang pas dalam mengarahkan jari-jemari kedua kakinya. Mereka mengarahkan jari-jemari kakinya bukan ke arah kiblat, melainkan agak miring/bengkok/melenceng ke arah kanan dan kiri kiblat, seiring dengan miringnya posisi kedua kaki mereka dari arah kiblat yang ada di hadapannya pada saat berdiri. Yakni, kaki kanan mereka miring ke kanan dan kaki kiri mereka miring ke kiri, seperti gambar no. ….. Marilah kita coba perbaiki cara berdirinya kita dalam shalat, sedikit demi sedikit, agar lebih sesuai dengan petunjuk Rasulullah s.a.w.

Namun demikian, ketika kita shalat tapi tidak meluruskan jari-jemari kaki kita ke arah kiblat, itu bukan berarti shalat kita tidak sah, melainkan kurang afdhal saja. Karena lurusnya jari-jemari kaki ketika shalat adalah bukan masalah inti (rukun shalat) yang wajib dipenuhi.

Janganlah kita terpancing untuk ribut hanya karena jari kaki orang yang shalat di sebelah kita tidak lurus menghadap kiblat, atau hanya karena kakinya kurang rapat dengan kaki kita, sampai kita mengejar-ngejarnya, atau bahkan menginjak-injaknya! Karena; pertama, kerapatan shaf dalam hadis “saddu l-khalal” (isilah tempat yang kosong) adalah hanya mubalaghah (hiperbola) dalam hal pentingnya arti kebersamaan dan kerapatan shalat, bukan wajib rapat tanpa ruang sama sekali yang karenanya susah untuk sujud, duduk dan berdiri, sehingga kenyamanan shalat menjadi terganggu. Artinya, jika secara umum shaf itu sudah lurus dan tidak ada tempat kosong, yang mana kosongnya itu bisa untuk berdirinya satu orang, maka hal itu sudah dikatakan lurus dan rapat. Sebagaimana masalah ini dijelaskan oleh Imam Para Ahli Hadis (Imam al-Muhadditsin) yaitu al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqlani dalam kitab Fath al-Bari-nya pada halaman 77, ketika beliau menjelaskan maksud hadis tersebut.[18]

Alasan kedua, para sahabat di zaman Rasulullah s.a.w. tidak pernah ada yang sibuk dengan urusan mata kaki. Apalagi sibuk melihat ke bawah, ke kanan dan ke kiri untuk merapatkan kakinya setelah takbir dan masuk dalam rangkaian shalat. Tidak ada satu hadis pun yang menyatakan bahwa, para sahabat sibuk mengejar-ngejar kaki saudaranya! Artinya, perbuatan mengejar-ngejar kaki orang yang shalat di sampingnya adalah bid’ah yang sesungguhnya!

Terlebih lagi –ini alasan ketiga–, Nabi s.a.w. telah bersabda, “inna sh-shalâta la syuglâ” (sesungguhnya shalat itu adalah kesibukan [kekhusyu’an] kepada Allah s.w.t.), bukan sibuk dengan urusan mata kaki! Sibuk dengan urusan matakaki justru merupakan suatu ibadah baru (bid’ah) yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. dan para sahabatnya. Bahkan sibuk dengan urusan matakaki membuat kita lalai dari Allah s.w.t. Kondisi seperti ini tentu berlawanan dengan hakikat shalat itu sendiri. Di sisi lain, kekhusyu’an dan kesibukan kepada Allah tidak akan tercipta tanpa adanya kenyamanan. Dalam kaitan ini, Nabi s.a.w. mengingatkan orang yang shalat berjamaah untuk selalu menjaga kenyamanan dan keleluasaan:

...وَلِينُوا بِأَيْدِي إِخْوَانِكُمْ . (رواه أبو داود والبيهقي وأحمد)

dan berlemah-lembutlah terhadap tangan saudara-saudara kalian (yang ada di sebelah kalian).” (HR. Abu Daud, Baihaqi dan Ahmad)[19]

Nabi s.a.w. juga bersabda:

خَيْرُكُمْ أَلْيَنُكُمْ مَنَاكِبَ فِي الصَّلَاةِ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling lunak/lembut pundaknya di dalam shalat (terhadap orang di sebelahnya).” [ HR. Abu Daud, Baihaqi, Ibn Khuzaimah dan Ibn Hibban dengan sanad sahih].

Menurut Imam al-Khaththābi, kalimat “paling lembut pundaknya”, maknanya: “Terus menerus tenang dalam shalat, tidak menoleh, dan pundaknya tidak menggoyang/membentur pundak orang lain.” [ Ma’ālim Sunan melalui kitab La Jadīda fi al-Shalāt hal. 14].

Menurut Imam al-Munāwi, “Pundaknya jangan sampai berdesakan dengan pundak sahabatnya.” [Faidhul Qadir : 3/466].

 

https://rezzatio.files.wordpress.com/2020/08/addtext_08-08-02.18.43.jpg?w=554

Oleh sebab itu, sepatutnya kita tetap bisa menjaga kerapatan shaf disertai dengan kenyamanan dan keleluasaan. Adapun renggang beberapa sentimeter yang wajar yang tidak muat untuk satu orang berdiri adalah masih dalam definisi rapat, sebagaimana telah disinggung sebelumnya.[20]

Dalam berbagai hadis yang diriwayatkan oleh mayoritas imam-imam hadis di antaranya Imam Bukhari, Muslim, Ahmad, Baihaqi, Thabarani, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Abi Syaibah, Abdur Razzaq, Abu Uwanah, Abu Ya’la, dan lainnya disebutkan bahwa, sabda Nabi s.a.w. tentang meluruskan shaf berbunyi “sesungguhnya meluruskan shaf termasuk dari kebaikan shalat (min husni sh-shalat).” Ini bermakna bahwa, meluruskan shaf dalam shalat itu bukan rukun atau wajib shalat! Untuk lebih jelasnya, mari kita telaah bersama matan hadisnya, sebagai berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: أَقِيمُوا الصَّفَّ فِي الصَّلَاةِ فَإِنَّ إِقَامَةَ الصَّفِّ مِنْ حُسْنِ الصَّلَاةِ. (متفق عليه)

Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w. bahwasanya beliau bersabda, “Buatlah shaf (barisan) dalam shalat, karena sesungguhnya membuat shaf itu termasuk dari kebaikan shalat.” (Muttafaq ‘Alaih: Bukhari dan Muslim)

Hadis ini dengan begitu tegas mengandung arti bahwa, hukum meluruskan shaf dalam shalat adalah sunnah, bukan wajib. Kenapa? Karena dalam hadis itu Nabi menyebutnya sebagai “min husni” (termasuk dari kebaikan), yakni termasuk dari kebaikan shalat. Bukan sebagai sebab sahnya shalat.

Jika itu perkara wajib, tentu Nabi s.a.w. tidak akan menyebutnya sebagai “termasuk dari kebaikan shalat”. Sebab sebagaimana maklum adanya bahwa, kebaikan sesuatu (husnu sy-syai`) merupakan tambahan atas kesempurnaan sesuatu tersebut (ziyâdah min tamâmih), yakni tambahan nilai pahala atas kesempurnaan ibadah shalat. Suatu tambahan yang menambah kepada sesuatu yang sudah sempurna, maka perkara itu bukanlah sesuatu yang wajib!

3.   Posisi badan berdiri lurus menghadap kiblat dengan mengarahkan pandangannya ke depan ke arah kiblat, atau pun ke tempat sujud.

Orang shalat memiliki pilihan apakah mengarahkan pandangannya ke tempat sujud ataupun ke arah depan agak ke bawah, tinggal mana yang lebih khusyu. Jika dia shalat menjadi makmum, maka dibolehkan melihat kepada imamnya. Imam Bukhari dalam shahihnya pada bab “Mengangkat Pandangan kepada Imam ketika Shalat” (Raf’u l-Bashar ila l-Imam fi sh-Shalah) meriwayatkan:

عَنْ أَبِي مَعْمَرٍ قَالَ: قُلْنَا لِخَبَّابٍ أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ؟ قَالَ نَعَمْ، قُلْنَا: بِمَ كُنْتُمْ تَعْرِفُونَ ذَاكَ؟ قَالَ: بِاضْطِرَابِ لِحْيَتِهِ. (رواه البخاري وأبو داود وابن ماجة والبيهقي وأحمد وغيرهم)

Dari Abu Ma’mar berkata, Kami bertanya kepada Khabbab, “Apakah Rasulullah s.a.w. membaca surah ketika shalat Zhuhur dan Ashar? Dia menjawab, Ya. Kami tanyakan lagi, Bagaimana kalian bisa mengetahui hal itu? Dia menjawab, Dari gerakan jenggot beliau.” (HR. Bukhari, Abu Daud, Ibnu Majah, Baihaqi, Ahmad dan lainnya)[21]

Dari hadis ini jelas bahwa, para sahabat Nabi s.a.w. memperhatikan gerakan Nabi s.a.w. ketika mereka shalat bersama beliau s.a.w. Begitu juga dengan kandungan hadis di bawah ini:

أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا صَلَّوْا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ قَامُوا قِيَامًا حَتَّى يَرَوْهُ قَدْ سَجَدَ فَيَسْجُدُوْا. (رواه البخاري ومالك وأبو داود وأحمد وغيرهم)

“Sesungguhnya mereka (para Sahabat) ketika shalat bersama Nabi s.a.w., pada saat Beliau mengangkat kepalanya dari ruku, mereka masih berdiri sampai mereka melihat Nabi s.a.w. telah benar-benar sujud.” (HR. Bukhari)[22]

Imam Bukhari meriwayatkan dari ibnu Umar r.a., ia berkata :

رَأَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُخَامَةً فِي قِبْلَةِ الْمَسْجِدِ وَهُوَ يُصَلِّي بَيْنَ يَدَيْ النَّاسِ

“Nabi s.a.w. melihat dahak di arah kiblat masjid sedang beliau dalam keadaan shalat di hadapan orang-orang.” (Shahih al-Bukhari 1/151 no.753)

Hadis senada dari Anas bin Malik r.a. Nabi s.a.w. juga menyatakan:

قَالَ لَقَدْ رَأَيْتُ الْآنَ مُنْذُ صَلَّيْتُ لَكُمْ الصَّلَاةَ الْجَنَّةَ وَالنَّارَ مُمَثَّلَتَيْنِ فِي قِبْلَةِ هَذَا الْجِدَارِ

“Sungguh aku telah melihat sekarang, sejak aku mengimami kalian, surga dan neraka digambarkan di kiblat tembok ini.” (Shahih al-Bukhari 1/150 no.749)

Berdasarkan hadis-hadis di atas jelas sekali bahwa, para sahabat Nabi s.a.w. ketika shalat juga melihat kepada Nabi s.a.w. selaku Imam. Bahkan terkadang hingga detail kepada gerakan jenggotnya. Namun tentunya tidak demikian bagi para jamaah shalat yang ada di shaf belakang yang tidak dapat melihat imam secara jelas, atau bahkan terhalang. Artinya, dalam shalat, pandangan kita tidak harus menunduk ke bawah. Bahkan, Nabi s.a.w. dalam dua hadis shahih riwayat Imam Bukhari di atas jelas-jelas shalat sambil melihat ke arah depan (ke kiblat masjid dan ke tembok masjid).

Sekali lagi, itu hanyalah sebuah pilihan, yang terpenting bagaimana kita bisa khusyu’ secara maksimal ketika shalat. Karena sebagaimana sebelumnya telah disampaikan Nabi s.a.w. bahwa, “inna sh-shalâta la syuglâ” (sesungguhnya shalat itu adalah kesibukan [kekhusyu’an] kepada Allah s.w.t.), bukan sibuk dengan matakaki, sedikit-sedikit megang sorban, merogoh kantong, mainin HP (hand phone), atau lainnya.

Bahkan, dalam masalah ini ada hadis shahih menyatakan:

خرجه حرب بإسناده صحيح ، عن ابن جريج ، قالَ : سألت نافعا ، فقلت : أكان ابن عمر إذا كبر بالصلاة يرفع رأسه ووجهه إلى السماء ؟ فقالَ : نعم قليلا

Diriwayatkan oleh Harb dengan sanad sahid dan Ibn Juraij, dia berkata: aku bertanya kepada Nafi’, ‘apakah Ibn Umar jika telah takbir dalam shalat dia mengangkat wajahnya ke langit?’ Nafi menjawab: ‘Ya sedikit.’”[23]

4.   Tidak menoleh ke kanan dan ke kiri ketika shalat, bercanda, atau pun meludah di hadapannya.

وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ، فَإِذَا صَلَّيْتُمْ فَلَا تَلْتَفِتُوا فَإِنَّ اللَّهَ يَنْصِبُ وَجْهَهُ لِوَجْهِ عَبْدِهِ فِي صَلَاتِهِ مَا لَمْ يَلْتَفِتْ. (رواه الترمذي والحاكم وأحمد وابن حبان وابن خزيمة)

“Dan Allah telah memerintahkan kalian melakukan shalat. Jika kalian shalat, maka janganlah kalian menoleh, karena Allah menghadapkan wajah-Nya kepada wajah hamba-Nya dalam shalatnya selama ia tidak menoleh.” (HR. Tirmidzi, Hakim, Ahmad, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah)[24]

فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ يُصَلِّي فَإِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قِبَلَ وَجْهِهِ فَلَا يَبْصُقَنَّ قِبَلَ وَجْهِهِ وَلَا عَنْ يَمِينِهِ وَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ تَحْتَ رِجْلِهِ الْيُسْرَى فَإِنْ عَجِلَتْ بِهِ بَادِرَةٌ فَلْيَقُلْ بِثَوْبِهِ هَكَذَا ثُمَّ طَوَى ثَوْبَهُ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَقَالَ أَرُونِي عَبِيرًا فَقَامَ فَتًى مِنْ الْحَيِّ يَشْتَدُّ إِلَى أَهْلِهِ فَجَاءَ بِخَلُوقٍ فِي رَاحَتِهِ فَأَخَذَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَعَلَهُ عَلَى رَأْسِ الْعُرْجُونِ ثُمَّ لَطَخَ بِهِ عَلَى أَثَرِ النُّخَامَةِ. (رواه البخاري ومسلم واللفظ له وغيرهما)

Sesungguhnya salah seorang dari kalian bila shalat, Allah s.w.t. ada dihadapannya, karena itu janganlah ia meludah ke arah depannya atau ke kanannya, hendaklah ia meludah ke kiri, dibawah kaki kirinya. Dan bila ia tidak bisa menguasai diri hingga didahului oleh ludah atau ingusnya, hendaklah ia melakukan dengan bajunya seperti ini; beliau melipat baju beliau satu sama lain. Lalu bersabda, Perlihatkan minyak za’faran padaku. Lalu seorang pemuda kabilah bergegas ke keluarganya dengan cepat, kemudian ia datang membawa campuran minyak ditangannya, lalu Rasulullah s.a.w. mengambilnya, kemudian dioleskan di ujung pelepah kemudian digosokkan di sisa dahak.” (HR. Bukhari, Muslim dan lainnya)[25]

 

Hakikat Menghadap Kiblat

Menghadap kiblat (Ka’bah) dalam shalat, bukan berarti kita menyembah Ka’bah. Melainkan sebagai bukti ketundukan kita kepada Allah atas perintah-Nya itu. Terlalu naif jika kita mengatakan Allah berdiam diri di dalam Ka’bah.[26] Karena Allah s.w.t. “tidak sama dengan segala apa pun” (QS. asy-Syura [42]: 11) apalagi jika dikatakan punya tangan, kaki, dan kepala –maha suci Allah dari itu semua–, “Dan (ilmu) Allah di langit dan di bumi” (QS. al-An’am [6]: 3), “tidak nampak oleh mata” (QS. al-An’am [6]:103), “segala apa yang terlintas di pikiranmu, maka Allah tidak seperti itu”[27] (Syarh an-Nail wa Syifa al-’Alil 34/280)

Terkait arah kiblat shalat yang pernah menjadi sedikit ‘polemik’ di tengah umat Islam Indonesia, apakah mesti “‘ain” (bangunan) ka’bah atau cukup “jihah” (arah) ka’bah, para ulama Islam dari sejak dahulu telah menjelaskan masalah itu sebagaimana berikut:

1.   Para ulama sepakat bahwa, orang yang “dapat melihat Ka’bah” secara langsung, maka dalam shalatnya ia wajib menghadap ke bangunan Ka’bah. Karenanya, orang yang shalat dan ia mampu melihat Ka’bah, kemudian ia shalat tanpa menghadap tepat ke bangunan Ka’bah, maka shalatnya menjadi tidak sah.

2.   Sedangkan bagi orang yang shalat, namun ia “tidak dapat melihat Ka’bah”, di antaranya karena jaraknya yang jauh, mayoritas ulama mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali berpendapat bahwa, yang wajib baginya adalah cukup menghadap ke arah Ka’bahnya (jihah al-Ka’bah) saja, bukan bangunannya (‘ain al-Ka’bah). Seiring dengan firman Allah s.w.t.:

(( فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُمَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ))

“Hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram (dalam shalat). Dimana saja kamu berada, hadapkanlah wajahmu ke arahnya.” (QS. Al-Baqarah[2]: 144)

Juga dikuatkan oleh sabda Nabi s.a.w. dalam hadis shahihnya:

وَقَدْ رُوِيَ عَنْ غَيْرِ وَاحِدٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ قِبْلَةٌ، مِنْهُمْ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ وَعَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ وَابْنُ عَبَّاسٍ (رواه الترمذي والبيهقي والحاكم وغيرهم)

“Telah diriwayatkan dari banyak sahabat Nabi s.a.w. bahwa beliau s.a.w. telah bersabda, ‘Arah antara timur dan barat adalah kiblat shalat.’ Di antara para sahabat tersebut adalah Umar ibnu al-Khaththab, Ali ibnu ibnu Abu Thalib dan Ibnu Abbas.” (HR. Tirmidzi, Baihaqi, Ibnu Majah, Hakim, Thabarani, Malik, Ibnu Abu Syaibah)[28]

Hukum Menghadap Kiblat

(GAMBAR MENGHADAP KIBLAT)

Menghadap kiblat merupakan syarat sah dalam melakukan shalat, dalam arti, tidak sah shalat seseorang jika tidak menghadap ke arah kiblat. Boleh shalat tidak menghadap kiblat hanya dalam dua kondisi; yaitu dalam keadaan bahaya (darurat) seperti perang, dan pada saat mengerjakan shalat sunnah dalam perjalanan di atas kendaraan (mobil, motor, onta, kuda dan lainnya).

Terkait kondisi takut ini, Allah s.w.t. berfirman:

(( فَإنْ خِفْتُمْ فَرِجَالاً أَوْ رُكْبَاناً فَإِذَآ أَمِنتُمْ فَاذْكُرُواْ ٱللَّهَ كَمَا عَلَّمَكُم مَّا لَمْ تَكُونُواْ تَعْلَمُونَ ))

“Jika kamu dalam Keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka shalatlah sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 239]

Ibnu Umar r.a. dalam menafsirkan ayat ini berkata, “Jika dalam keadaan takut atau darurat, maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan, boleh dengan menghadap kiblat ataupun tidak (tergantung suasana yang memungkinkan).”[29] Sama seperti penjelasan Imam Malik dalam kitabnya al-Muwaththa.[30]

Adapun keterangan tentang bolehnya shalat sunnah tidak menghadap kiblat saat perjalanan adalah, hadis yang juga diriwayatkan oleh Ibnu Umar r.a., dia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَبِّحُ عَلَى الرَّاحِلَةِ قِبَلَ أَيِّ وَجْهٍ تَوَجَّهَ وَيُوتِرُ عَلَيْهَا غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يُصَلِّي عَلَيْهَا الْمَكْتُوبَةَ. (رواه البخاري، وفي لفظ لمسلم زيادة : يُومِئُ بِرَأْسِهِ)

“Rasulullah s.a.w. shalat sunnah di atas kendaraannya mengikuti ke mana arah tunggangannya, begitu juga dengan shalat witir. Hanya saja, Beliau tidak (pernah) melakukan shalat fardhu di atas kendaraannya.” (HR. Bukhari. Pada teks hadis riwayat Imam Muslim ada tambahan: “Beliau shalat sunnah dengan mengisyaratkan kepalanya.”)[31]

Seiring dengan hadis di atas, dalam riwayat Bukhari dan Ahmad disebutkan bahwa, apabila hendak melakukan shalat fardhu, Rasulullah s.a.w. turun dari tunggangannya lalu menghadap kiblat.” Artinya, jika memungkinkan seseorang untuk turun dari kendaraannya dan tidak dalam kondisi darurat, maka dia mesti turun. Karena Rasulullah s.a.w. tidak pernah mengerjakan shalat fardhu di atas kendaraannya. Adapun untuk shalat sunnah, Rasulullah s.a.w. sering melakukannya di atas kendaraannya.

Dalam shalat fardhu, bagi yang mampu berdiri, maka dia harus mengerjakan shalat sambil berdiri, sesuai dengan perintah Allah S.w.t., “Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 238). Bagi yang tidak mampu, maka disesuaikan dengan kemampuannya masing-masing.[32] Begitu juga dalam kondisi darurat, semisal shalat di atas perahu atau dalam pesawat, maka tidak wajib berdiri, melainkan disesuaikan dengan keadaannya masing-masing. Nabi s.a.w. bersabda:

صل فيها قائما إلا أن تخاف الغرق. (رواه البزار والدارقطني وصححه الحاكم)

“Shalatlah di dalamnya sambil berdiri kecuali kamu takut tenggelam.” (HR. Bazzar, Daruquthni, Hakim dan dishahihkan olehnya).

مَنْ صَلَّى قَائِمًا فَهُوَ أَفْضَلُ وَمَنْ صَلَّى قَاعِدًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَائِمِ وَمَنْ صَلَّى نَائِمًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَاعِدِ. (رواه البخاري وأبو داو وأحمد)

“Barangsiapa melakukan shalat (sunnah) dengan berdiri, maka itu lebih utama. Adapun bagi yang melakukannya sambil duduk maka baginya separuh pahala yang berdiri. Barangsiapa yang shalat (sunnah) sambil tidur (terlentang) baginya separuh pahala orang yang shalat sambil duduk.” (HR. Bukhari, Abu Daud, Ahmad dan lainnya).

 



[1] Shahih Bukhari hadis no. 5782 dan 6174. Shahih Muslim no. 602. Sunan Nasa`i no. 1296, 1297. Sunan Ibnu Majah no. 1050. Musnad Ahmad no. 18227. Mushannaf Ibni Abi Syaibah 1/322.

[2] Bukan sekedar pengaku-ngaku salaf, alias Salafi palsu.

[3] Hasyiyah Ibnu Abidin, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Cairo, Mesir, 1/131. Fathu l-Qadir, bab: Shifatu sh-Shalah 2/70.

[4] Nihayatu l-Muhtaj, bab: ats-Tsalits min Arkani sh-Shalah al-Qiyam, 4/85. Hasyiyat al-Jumal, bab Shifatu sh-Shalah 3/247. Tuhfatu l-Muhtaj, bab: Shifatu sh-Shalah, 5/321. I’anatu th-Thalibin 1/159. al-Majmu 3/431.

[5] Lihat: Syaikh al-Kilyani: al-Kafi, bab Shifat Shalat an-Nabiy wa Ahli l-bait, vol. 3, hal. 211, Teheran, Iran.

[6] Sunan an-Nasa`i: bab ash-Shaff baina l-Qadamain fi sh-Shalah 3/438 no. 882, 883. as-Sunan al-Kubra li l-Bahaqi: bab Kurhu an Yashuffa baina Qadamaihi wa Huwa Qa`im fi sh-Shalah 2/288. al-Mu’jam al-Kabir li th-Thabarani 8/204 no. 9243. Mushannaf Abdu r-Razzaq 2/266 no. 3306. al-Musnad al-Jami li Abi l-Fadhl 27/370 no. 9025. Lihat juga: al-Mughni li ibni Quddamah, fashl: Ittijahu n-Nazhar fi sh-Shalah 1/696.

[7] Lihat: al-Mughni li ibni Qudamah: Fashl Tarku sy-Syai` min Sunani sh-Shalah 3/124.

[8] Sunan an-Nasa`i: bab ash-Shaff baina l-Qadamain fi sh-Shalah 3/438 no. 882, 883. as-Sunan al-Kubra li l-Bahaqi: bab Kurhu an Yashuffa baina Qadamaihi wa Huwa Qa`im fi sh-Shalah 2/288. al-Mu’jam al-Kabir li th-Thabarani 8/204 no. 9243. Mushannaf Abdu r-Razzaq 2/266 no. 3306. al-Musnad al-Jami li Abi l-Fadhl 27/370 no. 9025.

[9] Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, jilid 2 h. 218, kumpulan hadis no. 154.

[10] Lihat: al-Mughni li ibni Qudamah: Fashl Tarku sy-Syai` min Sunani sh-Shalah 3/124.

[11] Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, jilid 2 h. 217-219, kumpulan hadis nomor 153-154. Abdul Razzaq ash-Shan’ani, jilid 2 h. 266, pada foonote no. 3 dari hadis no. 3306.

[12] Shahih al-Bkhari 3/290. Namun sangat disayangkan, bab tentang “Menghadapkan Jari-jemari Kedua Kakinya ke Arah Kiblat” (Bab Yastaqbilu bi Athrafi Rijlaihi l-Qiblah) ini hanya tertulis judulnya saja, tidak terdapat matan hadisnya. Wallahu a’lam entah ke mana?

[13] Ibid, 2/149.

[14] Shahih al-Bukhari, bab Yastaqbilu bi Athrafi Rijlaihi l-Qiblah, 3/290.

[15] Ibnu Hajar al-Asqalani: Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, bab Fadhlu Istiqbali l-Qiblati, 2/106.

[16] Mushannaf Abdu ar-Razzaq 2/172. Fath al-Bari li Ibni Rajab, bab Kitab ash-Shalah 3/135.

[17] Ibid, Fath al-Bari li Ibni Rajab.

[18] Ibnu Hajar al-Asqalani: Fath al-Bari, bab Ilzaqu l-manqib bi l-Manqib wa l-Qadam bi l-Qadam fi sh-Shaff, vol. 3 hal. 77.

[19] Sunan Abu Daud, bab Taswiyatu sh-Shufuf no. 570, 2/309. As-Sunan al-Kubra li al-Baihaqi, bab Iqamah ash-Shufuf wa Taswiyatuha, no. 5391. Musnad Ahmad, pada Musnad Abdullah ibnu Umar, juz 10, no. 5724.

[20] Silahkan lihat: kitab Fath al-Bari karya Ibnu Hajar al-Asqalani: bab Ilzaqu l-manqib bi l-Manqib wa l-Qadam bi l-Qadam fi sh-Shaff, vol. 3 hal. 77.

[21] Shahih Bukhari, bab: Raf’u l-Bashar ila l-Imam fi sh-Shalah, no. 20151, pada bab lain no. 190, 718, 719, 735. Sunan Abu Daud, bab Ma Ja’a fi l-Qira`ah fi zh-Zhuhr no. 678, 2/454. Sunan Ibnu Majah 3/57 no. 818. Musnad Ahmad no. 20151, 43/86.

[22] Shahih al-Bukhari, bab Raf’u l-Bashar ila l-Imam fi sh-Shalah, 3/191 no. 705. al-Muwaththa li al-Imam Malik no. 132. Musnad Ahmad 1/298 no. 17785, 17791. Sunan Abu Daud, bab Ma Yu`maru bihi l-Ma`mum min Ittiba’ no. 525 2/244. Sunan an-Nasa`i, bab Mubadaratu l-Imam, no. 820, 3/335.

[23] Fath al-Bari li Ibni Rajab, bab Kitab Shalat (Dammam, Saudi Arabia: Dar Ibn Jauzi, 1422 H), 4: 301.

[24] Lihat juga hadis-hadis senada pada: Sunan Abu Daud, bab al-Iltifat fi sh-Shalah no. 775, 3/88. Sunan an-Nasa`i, bab at-Tasydid fi al-Iltifat fi sh-Shalah no. 1182, 4/432. Musnad Ahmad, bab Hadits Abi Dzar al-Ghifari, no. 20531, 43/497. as-Sunan al-Kubra li al-Baihaqi 2/282. al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain li al-Hakim no. 827, no. 2/380. al-Mu’jam al-Kabir li ath-Thabarani 8/204, no. 9242. Shahih Ibnu Khuzaimah, bab: al-Khusyu’ fi sh-Shalah no. 465, 2/304.

[25] Shahih al-Bukhari, bab Hikku l-Bushaq bi l-yad fi l-Masjid no. 391, 2/168. bab lain no. 393, 394, 399. Shahih Muslim, bab Hadis jabir ath-Thawil no. 5328, 14/295. Musnad Ahmad, bab Musnad Abi Sa’id al-Khudri no. 11198, 23/243.

[26] Maha suci Allah dari dari segala bentuk keterikatan, penyerupaan dan pembatasan kekuasaan-Nya. Imam Ali –karramallâhu wajhah– menyampaikan:

“إن الله خلق العرش إظهارا لقدرته ولم يتخذه مكانا لذاته.”

“Sesungguhnya Allah menciptakan ‘Arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya.” (Diriwayatkan oleh Abu Manshur al- Baghdadi dalam kitab al-Farq bayna al-Firaq, h. 333)

“قَالَ سَيِّدُناَ عَلِيٌّ: ِإنَّ الَّذِي َأيَّنَ اْلأَيْنَ لاَ يُقَالُ لَهُ َأيْنَ وِإنَّ الَّذِي كَيَّفَ الْكَيْفَ لاَ يُقَالُ لَهُ كَيْفَ.”

“Sayyidina Ali –semoga Allah meridlainya– juga mengatakan yang maknanya, ‘Sesungguhnya yang menciptakan ayna (tempat) tidak boleh dikatakan bagi-Nya di mana (pertanyaan tentang tempat), dan yang menciptakan kayfa (bagaimana) tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana.’” (Diriwayatkan oleh Abu al-Muzhaffar al-Asfarayini dalam kitabnya at-Tabshir fi ad-Din, h. 98)

“وقال ابن رشد أيضا: فلا يقال أين ولا كيف ولا متى لأنه خالق الزمان والمكان.”

“Ibnu Rusyd juga menjelaskan, ‘Maka tidak dikatakan dimana, bagaimana, atau kapan, karena Allah yang menciptakan waktu dan tempat (sehingga tidak mungkin Dia berada di dalam ciptaan-Nya itu).’” (Ibnu Rusyd: Nasha`ih al-Murid, jilid 3, h. 181)

Di situ Ibnu Rusyd ingin menegaskan bahwa, Allah yang menciptakan waktu, tempat, arah dan keadaan tidak mungkin tergantung dengan hasil ciptaan-Nya itu, karena di sisi Allah tidak ada yang namanya waktu atau tempat. Waktu dan tempat adalah sesuatu yang fana, sedangkan Allah s.w.t. Maha Kekal dan Maha Abadi.

[27] Muhammad ibnu Yusuf ibnu Isa Uthfaisy, Syarh an-Nail wa Syifa al-’alil, bab fi at-Tafakkur, 34/280, Maktabah al-Irsyad - Maktabah Syamilah.

[28] Hadis ini dishahihkan oleh Imam al-Hakim dalam kitabnya al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain: bab Fi Fadhli sh-Shalawati l-Khams 2/246 no. 698, 699. Sunan at-Tirmidzi: bab Ma Ja`a anna ma baina l-Masyriq wa l-Maghrib Qiblah 2/74 no. 313, 314. Sunan Ibnu Majah: bab al-Qiblah 3/289 no. 1001. As-Sunan al-Kubra li l-Baihaqi 2/9. Al-Mu’jam al-Kabir li ath-Thabarani 19/137, 19/237, 19/284. Muwaththa Malik: bab Ma Ja`a fi l-Qiblah no. 413. Mushannaf ibnu Abu Syaibah 2/257.

[29] Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya, lihat Fathul Bari vol. 8 h. 199.

[30] Al-Muwaththa vol. 1 h. 184.

[31] Shahih Bukhari hadis no. 1034. Shahih Muslim no. 1136. Sunan Abu Daud no. 1035. Sunan Nasai 486 dan 736. Munad Ahmad no. 4392. Sunan Daruquthni no. 1698. Shahih Ibnu Khuzaimah 1026 dan 1197.

[32] Bagi yang tidak mampu berdiri maka sambil duduk, berbaring/rebahan/tiduran dengan posisi kepala/muka menghadap ke arah kiblat, atau badan miring ke sisi kanan dengan muka menghadap kiblat dan kepala berada di sebelah ėlor (utara) seperti arah kepala jenazah saat di shalatkan.

0 komentar:

Posting Komentar

Sample Text

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget