4.
TAKBIRATUL IHRAM
Oleh: Dr. KH. Marhadi Muhayar, Lc., M.A.
Setelah berdiri menghadap kiblat, lalu
bertakbiratul ihram dengan mengucapkan kalimat “Awloohu Akbar” (Allah Maha Besar), sambil mengangkat kedua telapak
tangan sejajar dengan telinga, dan kedua lengan tangan sejajar dengan bahu,
serta melihat ke tempat sujud, tidak menoleh ke kiri atau ke kanan.
Takbiratul
Ihram adalah takbir pertama ketika memulai shalat. Dengan Takbiratul Ihram ini
shalat dibuka atau dimulai, sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w.:
مِفْتَاحُ
الصَّلَاةِ الطُّهُورُ وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ. (رواه البيهقي والترمذي وأحمد وغيرهم)
“Kunci shalat
adalah suci, pembukanya takbir dan penutupnya salam.” (HR. Baihaqi, Tirmidzi, Ahmad dan lainnya)[1]
Tata Cara Bertakbiratul Ihram:
1. Takbir diucapkan sambil mengangkat kedua
tangan. Nabi s.a.w. bersabda:
عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ كَبَّرَ
وَصَفَ هَمَّامٌ حِيَالَ أُذُنَيْهِ (رواه مسلم)
Dari Wail ibnu Hujr bahwa, dia telah melihat Nabi s.a.w. mengangkat kedua
tangannya ketika shalat sambil bertakbir, Hammam –salah seorang perawi hadis
ini– menjelaskan, “(mengangkat kedua tangannya) setinggi kedua telinga.” (HR. Muslim)[2]
عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ الْحَضْرَمِيِّ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ مَعَ التَّكْبِيرِ. (رواه البيهقي
والترمذي وأحمد وغيرهم)
Dari Wail ibnu
Hujr al-Hadhrami berkata, “Saya telah melihat Rasulullah s.a.w. mengangkat
kedua tangannya bersamaan dengan takbir.” (HR. Baihaqi,
Tirmidzi, Ahmad dan lainnya).
Para ulama di
antaranya Imam Syafi’i dalam kitab al-Umm (1/90)
dan Imam Baihaqi dalam Sunannya menyatakan bahwa, cara mengangkat tangannya
adalah bersamaan dengan takbir. Bahkan beliau menyatakan, “Riwayat
yang menyebutkan mengangkat tangan bersamaan dengan takbir lebih shahih dan
lebih banyak. Jadi ini yang lebih utama untuk diikuti.” (2/27)
Oleh karena itu, mengangkat kedua tangan dalam shalat sebaiknya bersamaan dengan ucapan Takbir Pembuka (Takbiratul Ihram). Namun demikian, jika seseorang tidak mampu melakukan
itu, maka boleh mengangkat
tangan terlebih dahulu (sekitar setengah detik atau satu detik berselang), baru
kemudian bertakbir. Sebagaimana
hadis menyebutkan:
عَنِ ابْنِ عُمَرٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ لِلصَّلَاةِ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى تَكُونَا
حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ ثُمَّ كَبَّرَ (رواه مسلم وأبو داود)
Dari Ibnu
Umar r.a. berkata, “Rasulullah s.a.w. jika telah berdiri untuk shalat, beliau
mengangkat kedua tangannya setinggi pundaknya (terlebih dahulu) kemudian
bertakbir.” (HR. Muslim dan Abu Daud)[3]
Dari hadis ini dapat difahami bahwa,
Nabi s.a.w. mengangkat kedua tangannya beriringan atau diikuti dengan ucapan
takbir, yaitu dengan mengangkat kedua tangannya terlebih dahulu, setelah posisi
kedua tangan setinggi pundak (dan posisi jari tangan setinggi telinga), baru
kemudian bertakbir (lihat gambar).
2.
Mengangkat kedua telapak tangannya sejajar dengan kedua telinga, sedangkan
lengan tangannya sejajar dengan bahu/pundak. Ini
berdasarkan hadis shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari jalur Sahabat; Malik
bin Huwairits:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا كَبَّرَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا أُذُنَيْهِ. (رواه البخاري
ومسلم واللفظ له والنسائي وغيرهم)
“Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. jika bertakbir mengangkat kedua tangannya hingga
sejajar menyamai kedua telinganya.” (HR. Bukhari,
Muslim, Nasai, Tirmidzi dan lainnya. Lafazh hadisnya dari Muslim)[4]
Dikuatkan dengan beberapa hadis shahih lain, di antaranya:
1.
Dari jalur Sahabat; Wa`il ibnu Hujr:
أَنَّهُ أَبْصَرَ
النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِيْنَ قَامَ إِلَى الصَّلَوةِ رَفَعَ
يَدَيْهِ حَتَّى كَانَتَا بِحِيَالَ مَنْكِبَيْهِ وَحَاذَى إِبْهَامَيْهِ
أُذُنَيْهِ. (رواه البيهقي وأبو داود)
“Bahwasanya dia (Wa`il ibnu Hujr) telah melihat Nabi s.a.w.
ketika berdiri untuk shalat mengangkat kedua tangannya hingga sejajar kedua
pundaknya, sedangkan kedua ibu jari tangannya sejajar kedua telinganya.” (HR. Baihaqi, Abu Daud)[5]
Hadis masyhur ini juga telah diriwayatkan oleh imam-imam
hadis lain seperti: ats-Tsauri, Tsu`bah, Abu Uwanah, Zaidah ibnu Qudamah,
Basyar ibnu Mufadhdhal, Ashim ibnu Kulaib dan lainnya.[6]
Dalam hadis lain juga dinyatakan:
عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ
الْحَضْرَمِيِّ قَالَ: لَأَنْظُرَنَّ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ يُصَلِّي قَالَ فَنَظَرْتُ إِلَيْهِ قَامَ
فَكَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى حَاذَتَا أُذُنَيْهِ. (رواه مسلم وأبو داود والنسائي والبيهقي وابن خزيمة وابن حبان وأحمد واللفظ له)
Dari Wa`il ibnu Hujr berkata, “Sungguh aku ingin
sekali melihat bagaimana cara Rasulullah
shalat. Maka aku melihat dia berdiri (untuk memulai shalat). Lalu bertakbir
sambil mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua telinganya.” (HR. Muslim, Abu Daud, Nasa`i, Baihaqi, Ibnu
Khuzaimah, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah dan Ahmad, lafal darinya)[7]
2.
Dari jalur riwayat Sahabat; al-Barra ibnu Azib:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلَاةَ رَفَعَ يَدَيْهِ
حَتَّى تَكُونَ إِبْهَامَاهُ حِذَاءَ أُذُنَيْهِ. (رواه أحمدوأبو
داود)
“Rasulullah s.a.w. jika memulai shalat, beliau mengangkat
kedua tangannya hingga kedua ibu jarinya sejajar dengan kedua telinganya.” (HR. Ahmad, Abu Daud)[8]
Terkait dengan
posisi tangan setinggi telinga ini, beberapa hadis menggunakan redaksi yang
agak berbeda sedikit, tapi maksudnya sama. Ini
sengaja penulis sampaikan, agar menambah gambaran yang lebih jelas bagi para
pembaca, di antaranya adalah menggunakan kalimat:
a.
“Ibu jari tangannya sejajar dengan kedua daun telinganya” (hâdzat
ibhâmuhu syahmata udzunaihi). (HR. Ahmad
dan Nasa`i)[9]
b.
“Kedua ibu jarinya sejajar dengan kedua telinganya” (ibhâmaihi
bi hidzâ`i udzunaihi). (HR.
Baihaqi, Ibnu Khuzaimah dan Abu Ya’la)[10]
c.
“Kedua ibu jari tangannya dekat kedua telinganya” (qarîban
min udzunaihi). (HR. Abu Daud, Nasa`i, Ahmad,
Daraquthni dan Ibnu Hibban)[11]
d.
Kedua tangannya sampai ke ujung bagian atas kedua telinganya”
(yablugha bi himâ furu’a udzunaihi). (Abu daud, Nasa`i dan Ahmad)[12]
e.
Kedua tangannya melampaui kedua telinganya (jâwaza bi himâ
udzunaihi). (HR. Hakim, Ahmad dan Thabarani)[13]
f.
“Kedua tangannya di hadapan (di samping) ujung bagian atas
kedua telinganya” (hiyâla furu’i udzunaihi). (HR. Ahmad, Baihaqi dan Nasa`i)[14]
g.
“Kedua tangannya menyamai kedua telinganya” (sâwâ bi hima
udzunaihi). (HR. Daraquthni)[15]
h.
“Mengangkat kedua tangannya kepada kedua telinganya” (yarfa’u
yadaihi ila udzunaihi). (HR. Ahmad,
Thabarani dan Ibnu Majah)[16]
i.
“Kedua tangannya sejajar dengan kepalanya” (ilâ muhâdzî
ra’sihi). (HR. Abu Hanifah dan Malik bin Anas)[17]
3.
Jari-jemari tangan saat takbir tidak dirapatkan dan tidak juga
direnggangkan (biasa saja, normal tidak berlebihan), dengan posisi ujung jari
menghadap ke atas, sedangkan telapak tangannya menghadap ke arah kiblat. Lihat gambar no. Sebagaimana dijelaskan
dalam hadis shahih ini:
كان إذا قام إلى الصلاة قال هكذا واشار أبو عامر بيده ولم يفرج بين اصابعه
ولم يضمها. (رواه البيهقي والحاكم وابن خزيمة في صحيحه)
Nabi s.a.w. jika berdiri
untuk shalat seperti ini, –Abu Amir memberi isyarat dengan kedua tangannya–
tidak merenggangkan jari-jemari beliau dan tidak pula merapatkannya.
(HR. Baihaqi, Hakim dan Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya)[18]
أَشَارَ لَنَا يَحْيَى بْنُ حَكِيمٍ
وَرَفَعَ يَدَيْهِ فَفَرَّجَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ تَفْرِيجًا لَيْسَ بِالْوَاسِعِ ،
وَلَمْ يَضُمُّ بَيْنَ أَصَابِعِهِ، وَلاَ بَاعَدَ بَيْنَهُمَا، رَفَعَ يَدَيْهِ
فَوْقَ رَأْسِهِ مَدًّا. (رواه ابن خزيمة في صحيحه)
“Yahya ibnu
Hukaim telah meriwayatkan kepada kami (bahwa), Nabi s.a.w. (dalam bertakbir)
mengangkat kedua tangannya sambil merenggangkan jari-jemari beliau dengan
kerenggangan yang tidak lebar, juga tidak rapat. (Dalam mengangkat tangan itu)
Nabi s.a.w. tidak melebarkan (jarak antara) kedua tangannya (lihat gambar). Beliau s.a.w. mengangkat kedua
tangannya di atas kepalanya terbentang.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya)[19]
Ketika
mengangkat tangan saat bertakbir, keadaan kedua telapak tangan Rasulullah
s.a.w. menghadap ke arah kiblat. Tidak ada perbedaan pendapat dalam
masalah ini, sebagaimana disampaikan oleh al-Halabi dalam kitab Syarh Munyat
al-Mushalli.[20]
4.
Pengucapan kalimat takbir (awlôhu akbar) tidak mesti keras, maksimal dapat di dengar oleh dirinya sendiri dan orang lain di sebelahnya, kecuali dia sebagai Imam. Nabi s.a.w. bersabda:
Shalat sendiri (munfarid) ataupun ketika seseorang menjadi makmum,
maka takbirnya tidak perlu dikeraskan (jahr), cukup dapat didengar oleh dirinya
sendiri, maksimalnya dapat didengar oleh orang di sebelahnya yang sedang shalat
berjamaah bersamanya. Kecuali dalam shalat Id, maka sunnah
bagi makmum untuk juga mengeraskan takbirnya seperti Imam.[21]
عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْحَارِثِ قَالَ صَلَّى لَنَا أَبُو سَعِيدٍ
فَجَهَرَ بِالتَّكْبِيرِ حِينَ رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السُّجُودِ وَحِينَ سَجَدَ
وَحِينَ رَفَعَ وَحِينَ قَامَ مِنْ الرَّكْعَتَيْنِ وَقَالَ هَكَذَا رَأَيْتُ
النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.(رواه البخاري)
Dari Sa’id bin Al Harits berkata,
“Abu Sa’id memimpin kami shalat, dia mengeraskan bacaan takbirnya ketika
mengangkat kepala dari sujud, ketika mau sujud, ketika mengangkat (kepala dari
sujud) dan ketika bangkit berdiri dari rakaat kedua, setelah itu ia berkata,
“Begitulah aku melihat Rasulullah s.a.w.” (HR. Bukhari)
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ
فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَلَا تُكَبِّرُوا حَتَّى يُكَبِّرَ وَإِذَا رَكَعَ
فَارْكَعُوا وَلَا تَرْكَعُوا حَتَّى يَرْكَعَ وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ
لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ قَالَ مُسْلِمٌ
وَلَكَ الْحَمْدُ وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا وَلَا تَسْجُدُوا حَتَّى يَسْجُدَ
وَإِذَا صَلَّى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا وَإِذَا صَلَّى قَاعِدًا فَصَلُّوا قُعُودًا
أَجْمَعُونَ. (رواه أبو داود وأحمد والبيهقي والطبراني)
Dari Abu Hurairah berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam
bersabda, “Sesungguhnya
imam diangkat hanya untuk diikuti, bila ia bertakbir,
maka bertakbirlah, dan janganlah bertakbir sampai ia bertakbir.
Apabila ia ruku’, maka ruku’lah,
dan janganlah ruku’ sampai ia ruku.
Dan bila ia mengucapkan, “Sami’allahu lima hamidah”, maka ucapkanlah, “Rabbana wa lakal
hamdu”. Apabila ia sujud, maka sujudlah, dan janganlah kalian
sujud sampai ia (sudah dalam posisi)
sujud. Dan bila ia shalat dengan berdiri
maka shalatlah dengan berdiri. Bila ia shalat dengan
duduk, maka shalatlah dengan duduk semuanya.” (HR. Abu
Daud, Baihaqi , Ahmad dan Thabarani)[22]
Hadist ini menegaskan bahwa, imam wajib diikuti oleh makmum dalam setiap gerakannya dan tidak boleh didahului.
Penjelasan Cara Mengangkat Kedua Tangan
Perlu dikupas
di sini tentang posisi tinggi-rendahnya kedua tangan pada saat takbir, agar
kita tidak keliru dalam mencontoh cara shalat Rasulullah s.a.w. Karena ada
sebagian faham yang mengaku paling sunnah tetapi sebenarnya tidak nyunnah.
Mereka mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir di bawah dada, bukan sejajar
bahu/pundak!
Sebagaimana
disampaikan sebelumnya, cara mengangkat kedua tangan saat takbir adalah dengan
cara menyejajarkan kedua telapak tangan dengan kedua telinga, sedangkan kedua
badan tangannya (lengan tangan bagian atas dan bawah) sejajar dengan kedua
bahu, sambil mengucapkan kalimat “Awlôhu
Akbar” (Allahu Maha Besar).
Hadis shahih
riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari jalur Malik ibnu Huwairits menjelaskan
tata cara Rasulullah s.a.w. dalam mengangkat kedua tangan:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا كَبَّرَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى
يُحَاذِيَ بِهِمَا أُذُنَيْهِ. (رواه البخاري ومسلم وغيرهما واللفظ لمسلم)
“Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. jika bertakbir mengangkat
kedua tangannya hingga sejajar menyamai kedua telinganya.” (HR. Bukhari, Muslim dan lainnya. Lafazh hadis ini dari Muslim)[23]
Hadis shahih
lain dari jalur Ibnu Umar juga menjelaskan:
رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ فِي الصَّلَاةِ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يَكُونَا حَذْوَ
مَنْكِبَيْهِ. (رواه البخاري ومسلم وغيرهما)
“Aku melihat Rasulullah s.a.w. jika berdiri untuk memulai
shalat, dia mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua pundaknya. (HR. Bukhari, Muslim dan lainnya)[24]
Kedua hadis
shahih tersebut sebenarnya tidak bertentangan, tetapi saling menjelaskan antara satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu,
berdasarkan kedua hadis shahih ini, maka tata cara kaum muslimin dalam
mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir adalah, dengan mengangkat kedua
telapak tangannya ke atas hingga sejajar menyamai tinggi telinganya, sedangkan
letak lengan, siku, maupun batang tangannya[25]
sejajar setinggi pundaknya menyamping. Lihat gambar no.
Posisi ini
sebagai bentuk realisasi kedua hadis shahih di atas, sama persis dengan bunyi
redaksinya, “mengangkat kedua (telapak)
tangannya hingga sejajar menyamai kedua telinganya” dan “mengangkat kedua tangannya (yaitu lengan,
siku dan batang tangannya secara umum) sejajar dengan kedua pundaknya.” Lihat
gambar no.
Hal ini juga diperkuat dengan beberapa
alasan, yaitu:
1. Hadis “yuhâdzi udzunaihi” (sejajar menyamai kedua telinganya) memberikan
pemahaman lebih rinci dan mendetail, ketimbang hadis hadzwa mankibaihi (searah/sejajar dengan pundaknya). Dengan kata
lain, hadis pertama memperjelas hadis kedua.
2. Rasulullah s.a.w. tidak mengatakan
“sejajar dengan dada”, tetapi “sejajar ke samping dengan kedua pundaknya”. Perhatikan,
pundak/bahu lebih tinggi dari dada. Sedangkan sebagian kaum yang mengaku lebih nyunnah
itu melakukannya setinggi “di bawah dada”, bukan “sejajar pundak”. Karena arti
tangan bukan hanya telapak tangan. Sedangkan mereka mengartikan tangan hanya
telapak tangan saja. Pemahaman seperti itu tentu keliru, apalagi ketika
bertentangan dengan banyak hadis shahih. Lihat gambar
keliru ini:
3. Jika posisi kedua telapak tangan
benar-benar sejajar berada di depan dada seperti gambar 3, seperti gerakan yang
sering dilakukan oleh segelintir orang yang keliru dalam memahaminya, maka redaksi
hadisnya akan berbunyi kurang lebih seperti ini:
a.
“amâma shadhrihi” (di depan dadanya)
atau,
b.
“amâma mankibaihi” (di depan
kedua pundaknya) atau,
c.
“nahwa shadrihi” (searah dengan
dadanya) atau,
d.
“nahwa mankibaihi (searah dengan
kedua pundaknya) atau,
e.
“yuhâdzi shadrihi” (sejajar ke samping dadanya) atau,
Namun pada
kenyataannya, redaksi hadis shahih itu berbunyi “yuhâdzi udzunaihi” (sejajar menyamai kedua telinganya). Perhatikan
kata “sejajar menyamai kedua telinga”
ini yang berarti posisi telapak tangan dapat dipastikan berada “di atas” pundak/bahu dekat telinga.
Hanya dalam posisi telapak tangan seperti inilah, letak tangan –yang terdiri
dari lengan dan batang tangan) dapat sejajar dengan pundak/bahu, persis seperti
redaksi hadisnya. Karena yang
dimaksud dengan tangan itu bukan hanya kedua telapak tangan melainkan lengan
tangan, batang tangan, dan termasuk kedua telapak tangan. Tolong ini dicamkan!
Sebagai contoh, ketika orang bertanya, “Mana tanganmu?” Maka jawabannya pasti
seluruh bagian tangan, bukan hanya telapak tangannya. Atau ketika seseorang
mengeluhkan tangannya yang patah karena jatuh dari motor, “Aduh, tangan saya sakit sekali!” Apakah hanya telapak tangannya
yang sakit, atau justru lengan dan batang tangannya? Begitu juga dengan kalimat
“kedua tangan sejajar dengan bahu”
pada hadis tersebut, maka yang sejajar semua bagian tangan secara umum. Seperti gambar ini:
4. Jika hanya telapak tangannya saja yang
sejajar dengan dada, lalu bagaimana dengan letak lengan dan
batang tangannya? Pasti berada lebih rendah dari kedua telapak tangannya, yaitu berada di bawah dadanya, atau bahkan sejajar
dengan perutnya. Lihat gambar no. Maka, ini
sangat jauh dari redaksi kedua hadis shahih tersebut yang berbunyi “mengangkat kedua (telapak) tangannya
hingga sejajar menyamai kedua telinganya” dan “mengangkat kedua tangannya (yaitu lengan, siku dan batang tangannya
secara umum) sejajar dengan kedua pundaknya.”
Jika posisi
tangan berada lebih rendah dari pundak seperti gambar 4 tadi, maka redaksi
hadisnya akan berbunyi “tahta mankibaihi”
(di bawah kedua pundaknya) atau “tahta
shadrihi” (di bawah dadanya). Sedangkan Rasulullah s.a.w. tidak meletakkan
kedua tangannya di bawah pundak ketika bertakbir, apalagi di bawah dada,
seperti yang sering dilakukan oleh jamaah tersebut.
5. Oleh karena itu, kemungkinan besar,
hakikat dari kata “hadzwa mankibaihi”
(mengangkat kedua tangannya sejajar lurus dengan kedua pundaknya) bukanlah
seperti gambar (…), melainkan seperti ini:
a. Posisi “kedua telapak tangan” Rasulullah
s.a.w. setinggi “kedua daun telinga” sejajar di sampingnya. Sedangkan kedua
lengan tangannya setinggi bahu/pundak. Lihat gambar no. 8.
b. Atau, posisi “kedua telapak tangan”
Rasulullah s.a.w. setinggi “kedua daun telinga”, sejajar di sampingnya.
Sedangkan kedua lengan tangannya setinggi bahu/pundak. Hanya saja, posisi kedua
lengan tangannya itu benar-benar sejajar menyamping dengan sisi kanan dan kiri
bahu/pundak.
Perbedaan
antara posisi pertama (a) dengan kedua (b) adalah:
Pada posisi
pertama, lengan tangannya, utamanya sikut, tidak lurus ke samping, melainkan
agak ke depan sedikit (tidak terlalu melebar). Posisi ini cocok dalam shalat
berjamaah, khususnya bagi makmum, agar tangannya tidak membentur jamaah di
sampingnya ketika takbir.
Sedangkan pada
posisi kedua, seluruh lengan tangannya, baik lengan tangan atas maupun bawah
termasuk sikut, benar-benar lurus ke samping, sehingga agak melebar. Pada
posisi ini, sepertinya otot di belakang pundak menjadi agak kencang akibat
adanya tekanan. Posisi ini cocok bagi Imam atau shalat sendirian yang tidak ada
orang di sampingnya.
Oleh karena
itu, wajar jika kedua hadis tersebut berbunyi “yarfa’u yadaihi hadzwa mankibaihi” (mengangkat kedua tangannya
sejajar lurus dengan kedua pundaknya), dan berbunyi “yuhâdzi udzunaihi” (sejajar menyamai kedua telinganya).
Kedua hadis ini
dapat terealisasi dengan baik pada dua posisi di atas (poin a dan b). Bentuk
seperti inilah yang paling tepat, masuk akal dan sangat sesuai dengan kedua
hadis tersebut. Yang berarti kedua hadis tersebut tidak bertentangan, tetapi
saling menjelaskan.
Cukup banyak hadis shahih yang
menegaskan bahwa, Nabi s.a.w. mengangkat kedua tangannya sejajar kedua
telinganya ketika beliau bertakbir. Selain hadis shahih riwayat Imam Bukhari
dan Muslim yang sebelumnya telah kita singgung, juga hadis-hadis senada dari
para imam hadis (seperti Imam Abu Daud, Nasa`i, Baihaqi, Ahmad, Thabarani,
Daraquthni, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Ibnu Majah, Abu Ya’la dan lainnya)
tentang “posisi kedua tangan sejajar kedua telinga” yang juga telah kita kupas,
sesungguhnya masih cukup banyak hadis yang secara tegas menjelaskan bahwa, Nabi
s.a.w. mengangkat kedua tangannya di atas bahu setinggi kepala, di antaranya
adalah:
رَفَعَ يَدَيْهِ فَوْقَ رَأْسِهِ مَدًّا.
(رواه ابن خزيمة في صحيحه)
Nabi s.a.w.
mengangkat kedua tangannya di atas kepalanya terbentang.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya)[26]
Perawi hadis ini (Abu Bakr ibnu
Khuzaimah) melanjutkan:
“وَهَذِهِ اللَّفْظَةُ اِنَّمَا هِيَ :
رَفْعُ يَدَيْهِ مَدًّا، لَيْسَ فِيْهِ شَكٌّ وَلاَ اِرْتِيَابٌ أَنْ يَرْفَعَ
الْمُصَلِّيُ يَدَيْهِ عِنْدَ اِفْتِتَاحِ الصَّلاَةِ فَوْقَ رَأْسِهِ.”
“Ucapan dalam hadis tersebut yang
berbunyi “Nabi s.a.w. mengangkat
kedua tangannya terbentang (di atas kepalanya)” tidak ada keraguan dan kesamaran
di dalamnya sama sekali yaitu, dengan mengangkat kedua tangannya di atas
kepalanya pada saat memulai shalat.”
Wahai Saudaraku, hadis barusan yang
menyatakan Nabi s.a.w. “mengangkat kedua tangannya di atas kepalanya”
(maksudnya sejajar kedua telinganya, sebagaimana hadis Imam Bukhari dan Muslim
terdahulu) memiliki banyak syahid (hadis-hadis serupa), di antaranya
adalah:
قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: ثَلَاثٌ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَعْمَلُ بِهِنَّ قَدْ تَرَكَهُنَّ النَّاسُ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ (فَوْقَ رَأْسِهِ، عِنْدَ اِبْنِ خُزَيْمَةٍ) مَدًّا إِذَا دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ، وَيُكَبِّرُ كُلَّمَا رَكَعَ وَرَفَعَ، وَالسُّكُوتُ قَبْلَ
الْقِرَاءَةِ يَسْأَلُ اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ. (رواه البخاري والنسائي والبيهقي
والحاكم وأحمد وابن خزيمة وابن حبان وغيرهم)
Abu Hurairah berkata, “Ada tiga hal yang biasa dilakukan oleh
Rasulullah s.a.w. tetapi ditinggalkan oleh orang-orang yaitu: beliau biasa
mengangkat (tinggi) kedua tangannya terbentang (setinggi kepala –sebagaimana
riwayat Ibnu Khuzaimah) ketika memulai shalat, bertakbir setiap kali akan ruku
dan akan bangkit, dan diam sebentar sebelum membaca al-Fatihah (di situ beliau)
berdoa memohon karunia Allah.” (HR.
Bukhari, Nasai, Baihaqi, Hakim, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dll.)[27]
Para sahabat
Nabi s.a.w. dan mayoritas ulama-ulama Salaf juga berpendapat demikian.
Sebagaimana dituturkan oleh Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslimnya:[28]
“وَأَمَّا صِفَة الرَّفْع فَالْمَشْهُور
مِنْ مَذْهَبِنَا
وَمَذْهَب الْجَمَاهِير أَنَّهُ يَرْفَع يَدَيْهِ حَذْو مَنْكِبَيْهِ بِحَيْثُ
تُحَاذِي أَطْرَاف أَصَابِعه فُرُوع أُذُنَيْهِ أَيْ أَعْلَى أُذُنَيْهِ ،
وَإِبْهَامَاهُ شَحْمَتَيْ أُذُنَيْهِ ، وَرَاحَتَاهُ مَنْكِبَيْهِ ، فَهَذَا
مَعْنَى قَوْلهمْ : حَذْو مَنْكِبَيْهِ ، وَبِهَذَا جَمَعَ الشَّافِعِيّ رَضِيَ
اللَّه عَنْهُ بَيْن رِوَايَات الْأَحَادِيث فَاسْتَحْسَنَ النَّاس ذَلِكَ
مِنْهُ.”
“Adapun cara mengangkat (kedua tangan), yang masyhur
dalam mazhab kita (mazhab Syafii) dan mazhab mayoritas ulama adalah, mengangkat
kedua tangannya sejajar kedua pundaknya, di mana (sejajarnya itu) sejajar
dengan ujung jari-jemarinya, yaitu di atas kedua telinganya, kedua ibu
jarinya sejajar daun telinganya, dan batang tangannya (yang bagian atas)
sejajar pundaknya. Inilah yang dimaksud dengan ucapan
mereka (para perawi hadis), “sejajar kedua pundaknya”. Dengan ini, Imam Syafi’i
menggabungkan hadis-hadis tersebut, sehingga orang-orang membenarkannya.”
Oleh karena
itu, dalam berbagai kitab fikih terkemuka seperti: al-Fiqh
al-Islami wa Adillatuh,
Fiqh as-Sunnah, Mughni al-Muhtaj, I’anah
ath-Thalibin, al-Iqna,
as-Siraj al-Wahhab, asy-Syarh al-Kabir, Tuhfatul Muhtaj, Hasyiyah al-Bujairmi, Raudhah ath-Thalibin, Syarh al-Minhaj,
Fath al-Wahhab dijelaskan bahwa maksud sejajar bahu ketika takbir adalah
seperti ini:[29]
“(حَذْوَ
مَنْكِبَيْهِ) بِحَيْثُ تُحَاذِي أَطْرَافَ أَصَابِعِهِ أَعْلَى أُذُنَيْهِ
وَإِبْهَامَاهُ شَحْمَتَيْ أُذُنَيْهِ وَرَاحَتَاهُ مَنْكِبَيْهِ لِلِاتِّبَاعِ
الْوَارِدِ مِنْ طُرُقٍ صَحِيحَةٍ مُتَعَدِّدَةٍ.”
(Yang
dimaksud dengan) “sejajar bahu” adalah ujung jari-jemari tangan sejajar dengan
bagian atas daun telinga, kedua ibu jarinya sejajar dengan anting-anting
telinga (syahmah) dan kedua pergelangan tangan bagian atas (rohah) sejajar
dengan kedua bahu, dalam rangka mengikuti hadis-hadis shahih dari berbabagi
jalan periwayatan.
Posisi seperti
ini juga diperkuat dengan posisi letak telapak tangan ketika kita sedang
bersujud, yaitu kedua telapak tangan berada di atas
pundak sejajar dengan telinga. Di posisi itu, letak telapak tangan ketika
bersujud, kurang lebih sama dengan letak telapak tangan ketika kita sedang
bertakbir, Lihat gambar no. Pada gambar
tersebut, tinggi kedua telapak tangan ketika sujud sama tingginya dengan kedua
telapak tangan ketika takbir. Perhatikan secara seksama gambar sujud jika
posisinya diberdirikan. Lihat gambar no.
Posisi seperti
ini, yakni letak telapak tangan pada waktu
takbir sama dengan ketika sujud
dijelaskan oleh hadis shahih yang berbunyi:
عن وائل بن
حجر قال : أتيت المدينة ، فقلت : لأنظرن إلى صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم «
فرأيته حين افتتح الصلاة كبر فرفع يعني يديه فرأيت إبهاميه بحذاء أذنيه » ، فذكر بعض
الحديث ، وقال : «ثم هوى فسجد ، فصار رأسه بين كفيه مقدار حين افتتح الصلاة»
Dari Wail ibnu Hujr berkata, “Aku datang ke Madinah.
Kukatakan, Aku ingin sekali melihat shalat Rasulullah s.a.w. Maka aku melihat
beliau s.a.w. ketika memulai shalat, dia bertakbir mengangkat kedua tangannya.
Aku melihat kedua ibu jarinya sejajar kedua telinganya.” Lalu Wail menyebutkan
sebagian hadis itu dan berkata, “Kemudian Rasulullah s.a.w. turun sujud, maka
kepalanya berada di antara kedua telapak tangannya sama (posisinya) dengan
ketika beliau memulai shalat.”
Lihatlah, begitu jelas redaksi hadis di atas menyatakan “Kemudian
Rasulullah s.a.w. turun sujud, maka kepalanya berada di antara kedua telapak
tangannya sama (posisinya) dengan ketika beliau memulai
shalat” yakni, posisi kedua telapak tangan sama-sama berada di samping kepala
(telinga) pada saat berdiri takbir maupun ketika sujud.
Sedangkan cara mengangkat tangan
seperti gambar ini (di depan dada) tidak sesuai dengan hadis shahih yang
menyatakan “maddan” (terbentang), sebab cara seperti itu malah menguncup
(menyempit) bukan membentang!
[1] Sunan Abu Daud, bab Fardhu l-Wudhu no. 56, 1/88.
Sunan at-Tirimidzi, bab Ma Ja`a anna Miftahu sh-Shalah ath-Thuhur no. 3,
1/7. Sunan Ibnu Majah, bab Miftahu sh-Shalah ath-Thuhur no. 271, 1/323.
Musnad Ahmad, bab Wa min Musnad Ali no. 957, 2/463. Hadis ini juga
dishahihkan oleh Imam Hakim.
[2] Shahih Muslim, bab Wadh'u Yadihi
l-Yumna 'ala l-Yusra ba'da akbirati l-Ihram tahta Shadrihi fauqa surratihi, no.
608, jilid 2 hal. 366. Hadis senada juga diriwayatkan oleh Abu Daud, Baihaqi,
Darimi, Ibnu Khuzaimah dan lainnya.
[3] Shahih Muslim, bab Istihbab
Raf'ul Yadain Hadzwal Mankibain, no. 587, jilid 2 hal. 339. Sunan Abu Daud, bab
Raf'u l-Yadain fi sh-Shalat,
no. 620,
jilid 2 hal 383.
[4] Shahih al-Bukhari, bab Raf’u l-Yadain idza Kabbara
no. 695, 3/175. Shahih Muslim, bab Istihbab Raf’i l-Yadain Hadzwa l-Maqkibain no. 589, 2/341. Sunan
an-Nasa`i, bab Raf’u l-Yadain Hiyala l-Udzunain no. 870, 3/417. Sunan
ad-Darimi no. 1298, 4/5.
[5] Sunan al-Kubra li al-Baihaqi 2/25. Sunan Abu Daud, bab Raf’u
l-Yadain fi Sh-Shalah no. 622, 2/385. Lihat juga Subul as-Salam pada Raf’u
l-Yadain fi Awwali sh-Shalah 2/76.
[6] Lihat: Sunan al-Kubra li al-Baihaqi vol. 2, hal. 25.
[7] Shahih Muslim, bab Wadh’u Yadihi l-Yumna ‘ala l-Yusra
no. 608, 2/366. Sunan Abu Daud, bab Raf’u l-Yadain fi sh-Shalah no. 625,
2/388. Musnad Ahmad, bab Hadits Wa`il bin Hujr no. 18115, 38/331. Shahih
Ibnu Hibban, bab Shifat ash-Shalah no. 1892, 8/213. Shahih Ibnu
Khuzaimah, bab Wadh’u l-yamin ‘ala sy-Syimal no. 462, 2/299.
[8] Musnad Ahmad, bab Hadits ul-Barra bin Azib no.
17926, 38/113. Sunan Abu Daud, bab Man lam Yadzkuri r-Raf’a ‘inda r-Ruku’
no. 640, 2/406.
[9] Musnad Ahmad, bab Hadits Wa`il bin Hujr no. 18094,
38/310. as-Sunan al-Kubra li an-Nasa`i no. 956, 1/308.
[10] as-Sunan al-Kubra li al-Baihaqi 2/25. Shahih ibnu
Khuzaimah, bab Wadh’u l-yamin ‘ala sy-Syimal no. 461, 2/298. Musnad Abu
Ya’la al-Mousuli, bab Iftataha sh-Shalah Rafa’a Yadaihi no. 1623, 4/229.
[11] Sunan Abu Daud, bab Man lam Yadzkuri r-Raf’a ‘inda
r-Ruku’ no. 640, 2/406. HR. Sunan an-Nasa`i, bab Makan ul-Yadain mina
s-Sujud no. 1090, 4/272. Musnad Ahmad, bab Hadits al-Barra bin Azib
no. 17953, 38/140. Sunan ad-Daraquthni, bab Dzikri t-Takbir wa Raf’i
l-Yadain no. 1136, 3/245. Shahih ibnu Hibban, bab Shifat ush-Shalah
no. 1979, 8/379.
[12] Sunan Abu Daud, bab Min Dzikri annahu Yarfa’ Yadaihi
idza Qama, no 636, 2/401. Sunan an-Nasa`i, bab Raf’u l-Yadain li r-Ruku’
Hidza`a Furu’i Udzunaihi, no, 1014, 4/142. Musnad Ahmad, bab Hadits
Malik bin al-Huwairits no. 15051, 31/200.
[13] al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain li al-Hakim, bab Yarfa’u
Yadaihi hatta Jawazata Udzunaihi, no. 738, 2/287. Musnad Ahmad, bab Hadits
Abdullah bin az-Zubair no. 15517, 32/327. al-Mu’jam al-Kabir li
ath-Thabarani no. 8, 18/364. al-Musnad al-Jami li Abu al-Fadhl no. 5801,
18/267.
[14] Musnad Ahmad, bab Baqiyyatu Hadits Malik bin al-Huwairits
no. 19630, 41/492. Sunan al-Kubra li al-Baihaqi 2/25. Sunan an-Nasa`i no. 954,
1/307.
[15] Sunan ad-Daraquthni, bab Dzikri t-Takbir wa Raf’i
l-Yadain no. 1143, 3/254. Lihat juga: Nashbu ar-Rayah fi Takhrij Ahadits
al-Hidayah, bab Shifat ash-Shalah 2/362.
[16] Musnad Ahmad, bab Baqiyyah Hadits Malik bin al-Huwairits
no. 19626, 41/488. al-Mu’jam al-Kabir li ath-Thabarani no. 17514, 15/400. Sunan
Ibnu Majah, bab Raf’u l-Yadain idza Raka’a no. 858, 3/105.
[17] HR. Abu hanifah: Syarh Musnad Abu Hanifah 1/493.
[18] as-Sunan al-Kubra li al-Baihaqi 2/27, Mustadrak ‘ala
ash-Shahihain li al-Hakim: bab Amma Hadits Anas 2/373 no. 821 dan dia menyatakan sanad hadis ini
shahih. Shahih ibnu Khuzaimah: bab Nasyr al-Ashabi’ ‘inda Raf’i al-Yadain 2/274 no. 446.
[19] Shahih Ibnu Khuzaimah, bab Nasyr
al-Ashabi’ ‘inda Raf’i al-Yadain, no. 446, jilid 2 hal. 274.
[20] Ibrahim ibnu Muhammad ibnu Ibrahim al-Halabi: Syarh Munyat
al-Mushalli, Kementerian Wakaf Kuwait (masih berupa manuskrif tersimpan di
Idarat al-Makhthuthat, dapat diunduh di www.wadod.com/ bookshelf/ book/444), 2007, hal. 300. Lihat juga kitab
Zad al-Ma’ad, jilid 1 hal. 256.
[21] Dalam Mazhab Maliki justru
sebaliknya, termasuk sunnah (mandub) untuk mengeraskan bacaan Takbiratul
Ihram, baik ketika sebagai imam, makmum ataupun ketika shalat sendiri (munfarid).
Lihat: Hasyiyah ad-Dasuqi karya Syaikh Muhammad Arafah ad-Dasuqi, pada
pembahasan Fara`idh ash-Shalat, Dar al-Fikr Beirut, jilid 1 halaman 244.
Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaily: al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, jilid 2
halaman 914.
[22] Sunan Abu Daud, bab al-Imam
Yushalli min Qu’ud, 2/224: 511. Musnad Ahmad, Musnad Abu Hurairah 17/188: 8146.
Sunan Kubra li al-Baihaqi 3/93. al-Mu’jam al-Kabir li ath-Thabarani 19/444:
1062.
[23] Shahih al-Bukhari, bab Raf’u l-Yadain idza Kabbara
no. 695, 3/175. Shahih Muslim, bab Istihbab Raf’i l-Yadain Hadzwa
l-Maqkibain no. 589, 2/341.
[24] Shahih al-Bukhari, bab Raf’u l-Yadain idza Kabbara
no. 694, 3/174. Shahih Muslim, bab Istihbab Raf’i l-Yadain no. 587,
2/339.
[25] Yang dimaksud batang tangan di
sini adalah, lengan tangan bagian atas.
[26] Shahih Ibnu Khuzaimah, bab Nasyr
al-Ashabi’ ‘inda Raf’i al-Yadain, no. 446, jilid 2 hal. 274.
[27] Al-Qiraah Khalfa al-Imam li al-Bukhari,
bab Man Qaraa fi Saktat al-Imam idza kabbara, no. 169, jilid 1 hal 176. Sunan
an-Nasa`i, bab Raf'u al-Yadain Maddan, no. 873, jilid 3 hal. 422. As-Sunan
al-Kubra li al-Baihaqi, jilid 2 hal. 195. Mustadrak 'ala ash-Shahihain li
al-Hakim, no. 738, bab Yarfa' Yadaihi hatta Jawazata Udzunaih, jilid 2 hal.
287. Musnad Ahmad, bab Musnad Abu Hurairah, no. 9235, jilid 19 hal. 278. Shahih
Ibnu Khuzaimah, bab Nasyr al-Ashabi’ ‘inda Raf’i al-Yadain, no. 446,
jilid 2 hal. 274. Shahih Ibnu Hibban, no. 1807, bab Shifat ash-Shalat, jilid 8
hal. 47.
[28] Lihat juga dalam kitab: Subul as-Salam, bab Raf’u
l-yadain fi Awwali sh-Shalah, 2/76. Tuhfah al-Muhtaj fi Syarh al-Minhaj,
bab Shifat ash-Shalah 5/311.
[29] Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh
pada pembahasan Raf’u al-Yadain (Mengangkat Tangan) jilid 2 halaman 58, Fiqh
as-Sunnah pada pembahasan Sunan ash-Shalat (Sunah-Sunah Shalat) jilid 1 halaman
142, Mughni al-Muhtaj pada pembahasan Shifat ash-Shalat (Sifat Shalat) jilid 1
halaman 152, I'anah ath-Thalibin pada pembahasan Shifat ash-Shalat (Sifat
Shalat) jilid 1 halaman 134, Iqna pada pembahasan Arkan ash-Shalat (Rukun-rukun
Shalat) jlid 1 halaman 132, as-Siraj al-Wahhab pada pembahasan Fashl fi
Istiqbal al-Qiblat jilid 1 halaman 42, asy-Syarh al-Kabir jilid 3 halaman 269,
al-Wasith jilid 2 halaman 97, Tuhfatul Muhtaj fi Syarh al-Minhaj pada bab
Shifat Shalat jilid 5 halaman 311, Hasyiyah al-Bujairmi pada pembahasan Arkan
ash-Shalat jilid 4 halaman 196, Raudhah ath-Thalibin pada pembahasan Raf'u
al-Yadain 'inda at-Takbir jilid 1 halaman 231, Syarh al-Minhaj jilid 3 halaman
269, Fath al-Wahhab pada pembahasan Shifat Shalat jilid 1 halaman 71.
Artikel, Makalah dan Informasi
0 komentar:
Posting Komentar