Minggu, 26 April 2026


1.      MENGHADIRKAN NIAT SHALAT

Oleh: Dr. KH. Marhadi Muhayar, Lc., M.A.

Langkah pertama yang mesti dilakukan oleh setiap orang yang akan mendirikan shalat adalah, menghadirkan niat. Shalat menjadi tidak sah jika dilakukan tanpa menghadirkan niat terlebih dahulu beberapa saat sebelum Takbiratul Ihram (takbir pertama kali saat mengawali shalat).

Tata Cara Niat Shalat:

1.   Niat dilakukan sebelum shalat. Batasan waktunya adalah, dari saat kita mulai berdiri (bersiap-siap) untuk shalat sampai sebelum Takbiratul Ihram.[1] Jelasnya lihat footnote di bawah no. 10 dan gambar no. …

Saat Anda mulai berdiri untuk shalat, sebaiknya lupakan segala urusan terkait dunia. Anggaplah shalat Anda itu sebagai shalat di kesempatan terakhir yang Anda lakukan di kehidupan dunia ini. Karena Nabi s.a.w. sering berpesan kepada para Sahabatnya mengingatkan hal itu ketika mereka akan shalat dengan sabdanya, “Shalatlah kamu sebagai shalat perpisahan, seakan kamu tidak akan shalat lagi setelahnya” (shalli shalâtan muwadda’). (HR. Thabarani, Baihaqi, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Asakir, dan dishahihkan oleh al-Haitsami dalam kitab Asna al-Mathālib).[2] Setelah itu, hadirkanlah niat shalat Anda, lalu bertakbirlah.

2.   Tata cara menghadirkan niat shalat ada dua pilihan:

a.    Pertama, menghadirkan niat di dalam hati tanpa dilafalkan (dizhahirkan).

b.    Kedua, menghadirkan niat di dalam hati disertai dengan pelafalan kalimatnya.

Niat shalat boleh dilakukan di dalam hati tanpa diucapkan (fi l-qalb). Demikian juga, boleh dilakukan dengan diucapkan (zhahir), jika sekiranya itu dapat membantu kekhusyu’an ibadah orang yang hendak shalat, atau untuk lebih memastikan dan mempertegas maksud perbuatannya. Dalam mazhab Syafi’i, melafalkan niat shalat adalah lebih utama.

3.   Kalimat niat shalat yang mesti dihadirkan oleh setiap muslim sebelum dia shalat, di antaranya adalah sebagaimana berikut:

أُصَلِّي فَرْضَ الظُّهْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ إِمَامًا/مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَي...

USHOLLI FARDHO Z-ZUHRI ARBA’A ROKA’AATIN MUSTAQBILA L-QIBLATI IMAAMAN / MA`MUUMAN LILLAAHI TA’AALAA...

“Aku shalat fardhu zhuhur, empat rakaat, menghadap kiblat, sebagai imam/bermakmum, karena Allah s.w.t…”[3]

Semua ulama fikih sepakat bahwa, dalam mengerjakan shalat, seseorang wajib menghadirkan niat sebelumnya, dan penghadiran niat ini mesti terdiri dari:

a.    Pernyataan menyengaja pekerjaan (Qashdu l-Fi’li).

b. Pernyataan mengerjakan pekerjaan tertentu (at-Ta’yin).

c.    Pernyataan ibadah tersebut fardhu/wajib (al-Fardhiyah).

Kesemua syarat ini telah terpenuhi dalam contoh kalimat niat di atas (poin nomor 3).[4]

Penjelasan tentang Niat

Rasulullah s.a.w. telah memerintahkan umat Islam untuk berniat dalam setiap ibadah yang dilakukannya, sebagaimana sabdanya:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى (رواه البخاري ومسلم وغيرهما)

“Sesungguhnya amal ibadah itu (wajib) dikerjakan dengan niat, dan bagi setiap orang akan mendapatkan sesuatu berdasarkan apa yang telah dia niatkan.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi dan lainnya)[5]

Berdasarkan hadis ini, maka niat itu wajib dilakukan oleh setiap orang yang akan melaksanakan shalat. Niat bertempat di dalam hati, dilakukan beberapa saat sebelum melakukan ibadah shalat, tepatnya ketika kita mulai berdiri menghadapkan wajah kita ke arah kiblat untuk memulai shalat. Jika tidak sempat menghadirkan niat sebelum Takbiratul Ihram, maka batas akhir waktu niat adalah saat kita mengucapkan Takbiratul ihram, yakni akhir dari ucapan “Allâhu akbar”.[6] Sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w.:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ اَلنَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا قُمْتَ إِلَى اَلصَّلَاةِ فَأَسْبِغِ اَلْوُضُوءَ، ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ، فَكَبِّرْ (رواه البخاري ومسلم والبيهقي وغيرهم)

Dari Abu Hurairah r.a, bahwa Nabi s.a.w. bersabda, “Jika kalian hendak melakukan shalat, maka sempurnakanlah wudhu kemudian menghadaplah ke arah qiblat, lalu bertakbirlah...” (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya)[7]

Imam Nawawi di dalam kitabnya ar-Raudhah menjelaskan bahwa, pelaksanaan niat dilakukan beberapa saat sebelum Takbiratul Ihram. Para sahabat Nabi s.a.w. sepakat bahwa, shalat tidak sah tanpa niat sebelumnya.[8]

inilah gambar pelaksanaan niat

Pelafalan niat menurut Jumhur Ulama (mayoritas ulama) merupakan sesuatu yang baik dan terpuji, bahkan dianjurkan.[9] Beberapa ulama menegaskan, pelafalan niat dalam semua ibadah termasuk bagian dari Sunnah Rasulullah s.a.w.,[10] Karena hal itu merupakan bentuk implementasi dari perintah melakukan niat sebagaimana dalam hadis shahih tadi. Maka, Ketika Rasulullah s.a.w. bersabda, “Sesungguhnya amal ibadah itu dikerjakan dengan niat” (innamal a’mâlu binniyyât) beliau s.a.w. tidak mengatakan “Lafalkan!” sebagaimana juga tidak mengatakan “Jangan dilafalkan!”

Dilafalkan atau tidak, keduanya sama-sama dalam rangkaian menjalankan perintah Rasulullah s.a.w. untuk berniat. Sama seperti ketika beliau s.a.w. memerintahkan, “Berhajilah”, maka cara menunaikan haji bermacam-macam seperti yang dicontohkan Nabi s.a.w. dan para sahabatnya, yakni boleh dengan cara haji Ifrâd, Qirân atau dengan haji Tamattu’. Begitu juga dengan perintah untuk berbuka puasa, maka dalam membatalkan puasa itu boleh dengan sebutir tamr atau ruthab (kurma basah), boleh dengan seteguk air, dan boleh juga dengan makanan lain yang halal. Selagi tidak ada larangan dari agama (baca: Nabi s.a.w.), maka hal itu dibolehkan. Rasulullah s.a.w. bersabda, “Yassirû wa lâ tu’assirû” (mudahkanlah oleh kalian jangan dipersulit). Bahkan Allah s.w.t. juga berfirman dalam Al-Qur’an, “Wa mâ ja’ala ‘alaikum fi d-dîni min haraj” (Allah s.w.t. tidak menjadikan kalian sulit dalam urusan agama). (QS. al-Hajj [22]: 78)

Ada beberapa alasan mengapa pelafalan niat dikatakan sebagai Sunnah Rasulullah s.a.w.:

Pertama, sebagai bentuk pengamalan dari perintah berniat yang Rasulullah s.a.w. sampaikan. Alasan kedua, karena hal tersebut di-qias-kan[11] (dianalogikan) dengan beberapa ibadah yang kurang sempurna jika niatnya tidak dilafalkan seperti puasa Ramadhan,[12] Haji, serta Umrah, dan ibadah-ibadah lainnya.

Dalam hal puasa Ramadhan misalkan, Rasulullah s.a.w. bersabda:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ (رواه الخمسة وغيرهم)

Dari Siti Aisyah r.a. berkata, Rasulullah s.a.w. telah bersabda, “Barangsiapa yang tidak melafalkan niat puasa sebelum terbit fajar, maka tiadalah puasa baginya.” (Hadis Shahih riwayat Imam Lima: Abu Daud, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan lainnya).[13]

Imam Tirmidzi dan Imam Nasa`i menegaskan keshahihkan hadis ini. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban juga menyebutnya sebagai Hadis Shahih Marfu yang sampai kepada Rasulullah s.a.w.[14]

Begitu juga dalam melakukan ibadah haji dan umrah, Rasulullah s.a.w. dan para sahabatnya senantiasa melafalkan niat mereka ketika akan memulai ibadah haji dan umrah, sebagaimana dijelaskan oleh hadis shahih di bawah ini:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَدِمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ نَقُولُ لَبَّيْكَ بِالْحَجِّ فَأَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَجْعَلَهَا عُمْرَةً. (رواه البخاري ومسلم وغيرهما)

“Dari Jabir bin Abdullah r.a. berkata, “Aku datang bersama Rasulullah s.a.w., lalu kami mengucapkan (niat) “labbaik bil haji” (kami berniat memenuhi panggilan-Mu untuk berhaji), tetapi Rasulullah s.a.w. memerintahkan kami untuk berniat umrah saja.” (HR. Bukhari, Muslim dan lainnya).[15]

Demikian juga ketika bermaksud memeluk agama Islam, para Sahabat Rasulullah s.a.w. melafalkan syahadat dan sumpah setianya (bai’at) di hadapan beliau SAW. Sebagaimana digambarkan oleh hadis Rasulullah s.a.w.:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَطْلِقُوا ثُمَامَةَ فَانْطَلَقَ إِلَى نَخْلٍ قَرِيبٍ مِنْ الْمَسْجِدِ فَاغْتَسَلَ ثُمَّ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَقَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ (رواه البخاري ومسلم وأبو داود وغيرهم)

Rasulullah s.a.w. bersabda, “Lepaskanlah Tsumamah!” Lalu Tsumamah pun bergegas ke pohon korma yang dekat dengan masjid, dan mandi. Kemudian dia masuk ke dalam masjid, lalu melafalkan, “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan Nasai).[16]

Tidak jauh berbeda dengan ibadah puasa, haji dan saat masuk Islam, maka ketika seorang muslim hendak mengeluarkan zakat di hadapan petugas zakat (amîl), dia pun melafalkan niatnya sebagai sebuah bentuk penegasan. Pelafalan niat dalam menunaikan zakat ini dipandang baik oleh para ulama, baik ulama Salaf maupun Khalaf, demi mempertegas perbuatannya dan menghindari rasa waswas.[17] Walaupun juga tetap sah tanpa pelafalan niat dalam mengeluarkan zakat, asalkan terbetik dalam hatinya niat mengeluarkan zakat tersebut.[18] Karena semua amal ibadah tidak sempurna tanpa niat sebagaimana hadis “innama l-a’mâlu bi n-niyyât” (amal ibadah itu mesti disertai dengan niat) tadi. Bahkan Allah s.w.t. berfirman:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka, dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS. At-Taubah [9]: 103)

Para ulama tafsir sepakat bahwa, ayat ini adalah perintah untuk mendoakan seseorang yang baru saja bertransaksi (ijab-qabul) dalam menunaikan zakat.[19] Sedangkan sebuah transaksi zakat –berdasarkan ayat di atas– tidak mungkin tercipta tanpa adanya pelafalan dari kedua belah pihak, antara yang menunaikan zakat (muzakki) maupun pengumpul zakatnya (amîl). Minimal mereka berdua mengatakan misalkan, “Ini adalah zakat harta saya”, lalu dijawab oleh amîl zakat atau fakir miskin yang menerimanya dengan ucapan “Ya, saya terima”, ataupun ungkapan-ungkapan lain. Tidak mungkin mereka ber-ijabqabul tanpa ucapan sepatah kata pun. Apalagi dalam ayat di atas, Allah s.w.t. memerintahkan amîl untuk langsung mendo’akannya seketika setelah orang tersebut menunaikan zakatnya. Ini mengisyaratkan bahwa, ajaran Rasulullah s.a.w. dalam menunaikan zakat pada masa itu adalah dengan tatap muka (face to face) dan pelafalan dari maksud dan tujuannya. Ini artinya, bahwa pelafalan niat adalah sunnah Nabi s.a.w. dan dipandang baik dalam agama.

Cukup banyak sebenarnya, ibadah yang memerlukan pelafalan dan penegasan niat, seperti pernikahan dengan ijab-qabulnya, bahkan akan menjadi tidak sah tanpa pelafalan ijab-qabul.[20] Begitu juga dalam hal jual-beli, yang menurut pandangan beberapa ulama Salaf dan Khalaf bahwa, pelafalan ijab-qabul dalam transaksi jual beli merupakan suatu kemestian, atau paling tidak, dipandang sebagai sesuatu yang baik oleh mereka, karena untuk tujuan transparansi, penegasan, dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.[21] Begitu juga dalam hal memerdekakan budak, bahwa niat di dalam hati saja tidak cukup untuk memerdekakannya. Budak atau hamba sahaya tidak akan dihukumi merdeka jika tuannya hanya sekedar berniat memerdekakannya, tanpa realisasi pengucapan![22] Dan hal-hal lain seperti talak/perceraian yang tidak akan jatuh talaknya kecuali setelah diucapkan, bukan hanya sekedar niat yang tidak dibarengi dengan ucapan.[23] Begitu juga dengan nadzar[24], sumpah[25] dan bahkan berwudhu.[26] Hampir dalam semua ibadah, pelafalan niat dipandang baik oleh sebagian besar ulama termasuk ulama Mazhab Ahmad bin Hanbal. [27]

Lebih jelasnya, inilah pendapat para ulama mazhab terkemuka tentang pelafalan niat ketika hendak memulai shalat. Menurut Mazhab Imam Abu Hanifah, pelafalan niat sebelum shalat adalah baik dan dianjurkan, dalam rangka memperkokoh niatnya.[28] Dalam pandangan Mazhab Imam Malik, pelafalan niat adalah sesuatu yang boleh[29], bahkan afdhal (lebih utama).[30] Sedangkan menurut Mazhab Imam Syafi’i, pelafalan niat sebelum takbir merupakan Sunnah untuk membantu hati dalam meneguhkan niat dan menghindari rasa waswas dan ragu.[31] Menurut Mazhab Imam Ahmad bin Hanbal, pelafalan adalah sesuatu yang mustahab (dianjurkan).[32] Seperti melafalkan bacaan niat dengan kalimat “ushallî fardha zh-zhuhri ‘arba’a raka’ât-in mustaqbila l-qiblati ma`mûm-an lillâhi ta’âlâ” (aku shalat fardhu zhuhur empat rakaat menghadap kiblat sebagai makmum karena Allah).[33]

Dalil-dalil di atas menegaskan bahwa, pelafalan niat adalah sesuatu yang lumrah dan memiliki akar yang kuat dalam ajaran Islam. Para ulama Fikih dan ulama Salaf terdahulu memandang hal itu baik, sebagai bagian dari realisasi perintah Nabi s.a.w. untuk berniat dalam semua amal ibadah, sebagaimana tadi telah dijelaskan. Lantas apakah para ulama itu juga dianggap sesat dan masuk neraka?[34] Mâsyâ Allâh!

 



[1] Pendapat para ulama 4 mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Ahmad) tentang waktu pelaksanaan niat shalat:

1.  Mazhab Syafi’i menyatakan, niat shalat dilakukan beberapa detik sebelum Takbiratul Ihram (takbir pertama) secara beriringan, bukan bersamaan dengan Takbiratul Ihram. Tidak sah niat yang dilakukan jauh sebelum Takbiratul Ihram, atau sesudahnya. Demikian Mazhab Syafii menegaskan. (Lihat kitab-kitab Mazhab Imam Syafi’i seperti: al-Majmu 3/277. Nihayatu l-Muhtaj 4/32,82 bab: ats-Tsani min Arkani sh-Shalah. Raudhatu th-Thalibin 1/82, Fashl: fi n-Niyyah. I’anatu th-Thalibin 1/208, dsb.)

2.  Mazhab Hanafi mengatakan, niat shalat boleh dilakukan beberapa saat sebelum Takbiratul Ihram asalkan tidak ada sesuatu yang memisahkannya dengan shalatnya seperti makan, minum, bercanda, ngobrol, tidur dan semacamnya. Ulama Mazhab Hanafi sepakat bahwa, yang paling utama (afdhal) adalah melakukan niat shalat beriringan sebelum Takbiratul Ihram tanpa diselingi oleh sesuatu/hal lain. (Lihat kitab-kitab Mazhab Imam Abu Hanifah seperti: Hasyiyah Raddi l-Mukhtar 1/448. al-Mabsuth, bab Kaifiyatu d-Dukhul fi sh-Shalah 1/18. Bada`i ash-Shana`i 2/19 Fashl: Syara`ith Arkani sh-Shalah. al-Bahru r-Ra`iq 3/95, bab Syurutu sh-Shalah, dsb.)

3.  Sedangkan dalam Mazhab Maliki terdapat dua pendapat, Pertama: niat boleh dilakukan pada “beberapa waktu yang pendek (ada jeda waktu)” menurut kelaziman/kewajaran (zaman yasir ‘urfan) sebelum Takbiratul Ihram. Contohnya, seseorang yang sudah menghadirkan niat shalat ketika dia baru memasuki pintu masjid. Pendapat Kedua: niat tidak boleh dilakukan pada “beberapa waktu yang pendek” sebelum Takbiratul Ihram sama sekali, melainkan mesti beriringan sebelum Takbiratul Ihram, atau tidak ada jeda waktu. Jika dilakukan jauh sebelum takbir, maka shalatnya tidak sah. (Lihat kitab-kitab Mazhab Imam Malik seperti: Hasyiyah ad-Dasuki 2/374 pada pembahasan Fara`idhu sh-Shalah. Bidayatu l-Mujtahid 1/1 150. Hasyiyah al-Udwi 2/284 dan 289 bab Fi Shifati l-’Amal fi sh-Shalah. Mawahibu l-Jalil 2/226, bab Mashu Ba’dhi l-A’dha`, dsb.)

4.  Adapun Mazhab Hanbali mengatakan, niat shalat boleh dilakukan beberapa saat yang pendek (zaman yasir/beberapa menit) sebelum Takbiratul Ihram, dengan syarat niatnya itu dilakukan setelah masuk waktu shalat tersebut. Jadi, tidak boleh niat shalat dilakukan beberapa saat yang panjang. Sebagai contoh, jika seseorang niat shalat ashar beberapa saat sebelum masuk waktu ashar, maka shalatnya tidak sah. Oleh karena itu, yang lebih utama (afdhal) menurut mazhab Hanbali adalah, melakukan niat shalat beriringan sebelum Takbiratul Ihramnya, sama dengan pendapat Mazhab Hanafi. (Lihat kitab-kitab Mazhab Imam Ahmad seperti: al-Mughni 2/326 bab: Mas`alatu Taqdimi n-Niyyah ‘ala t-Takbir. asy-Syarhu l-Kabir 1/123,494. asy-Syarhu l-Mumti’ 2/296, bab wa lahu taqdimuha ‘alaiha bi zamanin yasir. al-Furu’ li ibni Muflih 4/473, dsb)

Dari pendapat semua ulama mazhab di atas, dapat disimpulkan bahwa mereka sepakat niat shalat dilakukan beriringan “sebelum” Takbiratul Ihram.

Hadis tentang wajibnya niat diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya: bab Bud’u l-Wahyi 1/3 no. 1, bab Ma Ja’a inna l-A’mal bi n-Niyyah 1/94 no. 52. Shahih Muslim: bab Qauluhu Shallawlahu ‘alaihi wa Sallam Innama l-A’malu bi n-Niyyah 10/14. Sunan Abu Daud: bab Fi ma ‘ana bihi th-Thalaq wa n-Niyyat 6/118 no. 1882.

[2] Sunan Ibnu Majah, bab al-Hikmah no. 4161. Musnad Ahmad, bab Hadits Abi Ayyub al-Anshari no. 22400. Mushannaf Ibni Abi Syaibah vol. 8 no. 70. al-Mu’jam al-Kabir li th-Thabarani vol.2 no. 3890, 5326. az-Zuhdu l-Kabir li l-Baihaqi no.111.

[3] Lihat tentang pelafalan niat ini pada kitab-kitab Fikih berbagai mazhab sepertI: kitab Fikih Mazhab Hanafi: al-Bahru ar-Ra`iq Syarh Kanzu d-Daqa`iq 3/94, Fikih Madzhab Maliki: Syarh Mukhtashar Khalil li l-Khurasyi 3/304, Fikih Mazhab Syafi’i: I’anah ath-Thalibin 1/152.

[4] Lihat: kitab Raudhatu th-Thalibin li n-Nawawi, pada pembahasan Far’u: fi Kaifiyyati n-Niyyah, vol. 1 hal. 83. Kitab Nailu r-Raja` Syarhu s-Safinatu n-Naja`, hal. 83-84.

[5] Shahih al-Bukhari: bab Bud’u l-Wahyi 1/3 no. 1, bab Ma Ja’a inna l-A’mal bi n-Niyyah 1/94 no. 52. Shahih Muslim: bab Qauluhu Shallawlahu ‘alaihi wa Sallam Innama l-A’malu bi n-Niyyah 10/14. Sunan Abu Daud: bab Fi ma ‘ana bihi th-Thalaq wa n-Niyyat 6/118 no. 1882.

[6] Lihat kitab: Ahkâm al-Qur’ân li al-Jashâs, vol. 1 h. 495 (bermazhab Imam Abu Hanifah). Mawâhib al-Jalîl, vol. 2 h. 226 (bermazhab Imam Malik). I’ânat at-Thâlibîn, vol. 1 h. 208 (bermazhab Imam Syafi’i). Asy-Syarhu al-Kabîr vol. 1, h. 495 (bermazhab Imam Ahmad bin Hanbal).

[7] Shahih al-Bukhari: bab Man Radda fa Qala ‘alaika s-Salam 19/276 no. 5782, Shahih Muslim: bab Wujub Qira`ati l-Fatihah fi kulli Rak’ah 2/356 no. 602. Sunan an-Nasa`i: bab Aqallu ma Yujza min ‘Amali sh-Shalah 5/103 no. 1296.

[8] Al-Ijma li Ibni al-Mundzir h. 39.

[9] Lihat kitab: Tabyîn al-Haqâ`iq Syarhu Kanzu ad-Daqâ`iq vol. 1 h. 99. Durar al-Hukkam vol. 1 h. 62. Hâsyiat ash-Shâwi vol. 1 h. 305. Hasyiat al-’Adwi ‘ala Syarhi Kifâyati ath-Thâlib vol. 2 h. 123. Syarhu al-Muntaha al-Irâdât vol. 1 h. 393 bab: an-Niyyatu fi ash-Shalât. Mathâlib Ûli an-Nahyi fi asy-Syarhi Ghâyat al-Muntahâ vol. 2 h. 440. Al-Iqnâ’ vol. 1 h. 42. Asy-Syarhu al-Kabîr vol. h. Al-Inshâf vol. 2 h. 331 bab: an-Niiyyat. Syarhu Muntaha al-Irâdât vol. 1 h. 395 bab: an-Niyyâtu fi ash-Shalât.

[10] Mathâlib Uli an-Nuha fî Syarhi Ghâyat al-Muntaha, vol. 1 h. 238. Mughni al-Muhtâj, vol. 1 h. 342, dan vol. 2 h. 248. Tuhfat al-Muhtâj juz, 5h.287. I’ânat at-Thâlibîn, vol. 1 h. 152.

[11] Ada beberapa sumber hukum dalam Islam yaitu: Al-Qur’an, Hadis, Ijma, Qiyas, Istihsan, dll.

[12] Dalam hal pelafalan niat puasa Ramadhan, sebagian ulama Fikih mengatakannya sebagai mustahab (dianjurkan), bukan tidak sempurna, tetapi keberadaan niatnya tetap wajib. Lihat kitab: al-Majmu, vol. 6, h. 289.

[13] Sunan Abu Daud: bab an-Niyyah fi sh-Shaum 6/445 no. 2098. Sunan at-Tirmidzi: bab Ma Ja`a la Shiyama liman lam Ya’zim mina l-Lail 3/179 no. 662. Sunan an-Nasa`i: bab Dzikru Ikhtilafi n-Naqilin li Khabar Hafshah, jilid 8 h. 31 no. 2291, h. 32 no. 2292, h. 34 no. 2294. Sunan al-Baihaqi 4/202, 4/203, 4/213. Musnad Ahmad: bab Hadits Hafshah Ummu l-Mukminin 53/412 no. 25252. Sunan ad-Darimi: bab Man lam Yujmi’i sh-Shiyam mina l-Lail 5/191 no. 1751. Sunan ad-Daruquthni: bab asy-Syahahah ‘ala Ru`yati l-Hilal 5/476 no. 2236.

[14] Juga diriwayatkan oleh ad-Daruqutni dengan redaksi agak berbeda, “لا صيام لمن لم يفرضه من الليل” (Tidak dianggap berpuasa orang yang tidak melafalkan niat pada malam harinya) dan dia berkata, “para perawinya orang-orang terpercaya.” Raudhatul Muhadditsin vol. 2 h. 310. Lihat juga: Arsip Multaqa Ahli l-Hadits vol. 32 h. 84 dan vol. 33 h. 493.

[15] Shahih Bukhari: bab Man Labba bi l-Hajji wa Sammahu vol. 5, h. 474, hadis no. 1468, lihat juga tentang pelafalan niat haji dan umroh di hadis no. 1436, 1458 dan 1462. Shahih Muslim: bab Fi l-Mut’ah bi l-Hajji wa l-’Umrah vol. 6, h. 243, hadis no. 2136, lihat juga no. 2168, 2194 dan 2195.

[16] Shahih Bukhari: bab al-Ightisal idza Aslama 2/261 no. 442. Shahih Muslim: bab Rabtu l-Asir wa Habsuh 9/216 no. 3310. Sunan Abu Daud 7/286 no. 2304. Sunan Nasa`i 1/318 no. 189.

[17] Al-Adzkar, vol. 1, h. 187.

[18] Tuhfat al-Muhtaj fi asy-Syarh al-Minhaj, fashl: fî Adâ`i az-zakât, vol. 13, h. 64.

[19] Lihat: Lihat kitab-kitab tafsir terkemuka semisal: Jami al-Bayan fi Ta`wil al-Qur`an (Tafsir ath-Thabari) karya Muhammad ibnu Jarir ath-Thabari, Muassasah ar-Risalah, cet. ke-1 1420/2000, 14/454. Tafsir al-Bighawi karya al-Husein ibnu Mas’ud al-Bighawi, cet. ke-4 1997/1417, Dar Thayyiba, 1/63. Tafsir al-Qurthubi 1/168, Tafsir al-Alusi 7/351, dan lain sebagainya.

[20] Hâsyiat ar-Raddi al-Mukhtâr, vol. 3h.10. Asy-Syarhu al-Kabîr li Ibni Qudâmah, vol. 7,h.374.

[21] Al-Muntaqâ fi aasy-Syarhi al-Muwaththa, vol. 3 h. 358.

[22] Ibid, bab: Qâla Mâlik Ahsana mâ Sami’tu, vol. 3, h. 94.

[23] Bidâyah al-Mujtahid, vol. 2, h. 60.

[24] Ibid, vol. 1, h. 331.

[25] Syarh Mukhtashar Khalîl li al-Khurasyi, bab: al-Yamîn wa mâ Yata’allaqu bihâ, vol. 9, h. 148.

[26] Lihat: Syarh Muntaha al-Irâdât, fasl: Yusytarathu li Wudhû` wa Ghusl Niyyah, vol. 1, h. 104.

[27] Mathâlib Uli an-Nuha fî Syarhi Ghâyat al-Muntaha, vol. 1, h. 238.

[28] Tabyîn al-Haqâ`iq Syarhu Kanzu ad-Daqâ`iq, vol. 1 h. 99 dan Durar al-Hukkam, vol. 1 h. 62.

[29] Hâsyiat ash-Shâwi, vol. 1, h. 305.

[30] Hasyiat al-’Adwi ‘ala Syarhi Kifâyati ath-Thâlib, vol. 2, h. 123.

[31] Mughni al-Muhtâj, vol. 1, h. 342, dan vol. 2, h. 248. Tuhfat al-Muhtâj vol. 5,h.287. I’ânat at-Thâlibîn vol. 1 h. 152.

[32] Syarhu al-Muntaha al-Irâdât, vol. 1, hal, 393, bab: an-Niyyatu fi ash-Shalât. Mathâlib Ûli an-Nahyi fi asy-Syarhi Ghâyat al-Muntahâ vol. 2, h. 440 .Al-Iqnâ’, vol. 1, h. 42.

[33] Al-Bahru ar-Râ`iq Syarhu Kanzi ad-Daqâ`iq, vol. 3 h. 94. Syarh Mukhtashar Khalîl li al-Khurasyi, vol. 3 h. 304. Asy-Syarhu al-Kabîr, vol. 1h.494. Al-Inshâf, vol. 2 h. 331, bab: an-Niyyah. Syarhu Muntaha al-Irâdât, vol. 1 h. 395, bab: an-Niyyâtu fi ash-Shalât.

[34] Mereka para Imam Mazhab (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad) hidup jauh sebelum Imam Bukhari, Muslim dan beberapa Muhaddits (ulama hadis) besar lainnya. Imam Abu Hanifah lahir tahun 80 hijriyah dan wafat tahun 150 hijriyah. Beliau dianggap oleh sementara peneliti sebagai Tabi’in, karena pernah bertemu dengan Sahabat Nabi s.a.w., Anas bin Malik. Imam Malik lahir tahun tahun 93 H dan wafat tahun 179 H. Imam Asy-Syafi’i lahir tahun 150 H dan wafat tahun 204 H. Imam Ahmad bin Hanbal lahir tahun 164 H dan wafat tahun 241 H. Sedangkan Imam Bukhari baru lahir 30 tahun setelah kelahiran Imam Ahmad bin Hanbal, sehingga wajar jika mereka tidak mengenal hadis-hadis riwayat Bukhari, Muslim atau lainnya, bahkan sebaliknya. Era Muhadditsin itu baru dimulai setelah lewat masa hidupnya para ulama pendiri mazhab tersebut. Namun demikian, para imam mazhab itu juga Muhaddits yang ahli dalam meriwayatkan dan mengkritik hadis. Sebaliknya, para Muhaddits umumnya tidak lantas menjadi ahli Fiqih, sehingga mereka tidak menjadi rujukan dalam meng-istimbath suatu hukum. Hal ini disinggung dikarenakan banyak orang zaman sekarang yang merasa ta’jub dan euforia hanya dengan hadis sahih. Padahal menentukan hukum ibadah tidak cukup hanya dengan berdasarkan hadis sahih saja, perlu dengan ilmu-ilmu al-Qur’an, ilmu-ilmu Hadis, ilmu Fiqh, ilmu Ushul Fiqh, ilmu Qawa’id al-Fiqh, ilmu Mantiq, ilmu Bahasa, dan lainnya. Sehingga tidak keliru dalam mengambil keputusan.

0 komentar:

Posting Komentar

Sample Text

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget