Minggu, 26 April 2026

4.      TAKBIRATUL IHRAM

Oleh: Dr. KH. Marhadi Muhayar, Lc., M.A.

 

Setelah berdiri menghadap kiblat, lalu bertakbiratul ihram dengan mengucapkan kalimat “Awloohu Akbar” (Allah Maha Besar), sambil mengangkat kedua telapak tangan sejajar dengan telinga, dan kedua lengan tangan sejajar dengan bahu, serta melihat ke tempat sujud, tidak menoleh ke kiri atau ke kanan.

Takbiratul Ihram adalah takbir pertama ketika memulai shalat. Dengan Takbiratul Ihram ini shalat dibuka atau dimulai, sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w.:

مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ. (رواه البيهقي والترمذي وأحمد وغيرهم)

“Kunci shalat adalah suci, pembukanya takbir dan penutupnya salam.” (HR. Baihaqi, Tirmidzi, Ahmad dan lainnya)[1]

Tata Cara Bertakbiratul Ihram:

1.   Takbir diucapkan sambil mengangkat kedua tangan. Nabi s.a.w. bersabda:

عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ كَبَّرَ وَصَفَ هَمَّامٌ حِيَالَ أُذُنَيْهِ (رواه مسلم)

Dari Wail ibnu Hujr bahwa, dia telah melihat Nabi s.a.w. mengangkat kedua tangannya ketika shalat sambil bertakbir, Hammam –salah seorang perawi hadis ini– menjelaskan, “(mengangkat kedua tangannya) setinggi kedua telinga.” (HR. Muslim)[2]

عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ الْحَضْرَمِيِّ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ مَعَ التَّكْبِيرِ. (رواه البيهقي والترمذي وأحمد وغيرهم)

Dari Wail ibnu Hujr al-Hadhrami berkata, “Saya telah melihat Rasulullah s.a.w. mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan takbir.” (HR. Baihaqi, Tirmidzi, Ahmad dan lainnya).

Para ulama di antaranya Imam Syafi’i dalam kitab al-Umm (1/90) dan Imam Baihaqi dalam Sunannya menyatakan bahwa, cara mengangkat tangannya adalah bersamaan dengan takbir. Bahkan beliau menyatakan, “Riwayat yang menyebutkan mengangkat tangan bersamaan dengan takbir lebih shahih dan lebih banyak. Jadi ini yang lebih utama untuk diikuti.” (2/27)

Oleh karena itu, mengangkat kedua tangan dalam shalat sebaiknya bersamaan dengan ucapan Takbir Pembuka (Takbiratul Ihram). Namun demikian, jika seseorang tidak mampu melakukan itu, maka boleh mengangkat tangan terlebih dahulu (sekitar setengah detik atau satu detik berselang), baru kemudian bertakbir. Sebagaimana hadis menyebutkan:

عَنِ ابْنِ عُمَرٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ لِلصَّلَاةِ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى تَكُونَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ ثُمَّ كَبَّرَ (رواه مسلم وأبو داود)

Dari Ibnu Umar r.a. berkata, “Rasulullah s.a.w. jika telah berdiri untuk shalat, beliau mengangkat kedua tangannya setinggi pundaknya (terlebih dahulu) kemudian bertakbir.” (HR. Muslim dan Abu Daud)[3]

Dari hadis ini dapat difahami bahwa, Nabi s.a.w. mengangkat kedua tangannya beriringan atau diikuti dengan ucapan takbir, yaitu dengan mengangkat kedua tangannya terlebih dahulu, setelah posisi kedua tangan setinggi pundak (dan posisi jari tangan setinggi telinga), baru kemudian bertakbir (lihat gambar).

2.   Mengangkat kedua telapak tangannya sejajar dengan kedua telinga, sedangkan lengan tangannya sejajar dengan bahu/pundak. Ini berdasarkan hadis shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari jalur Sahabat; Malik bin Huwairits:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا كَبَّرَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا أُذُنَيْهِ. (رواه البخاري ومسلم واللفظ له والنسائي وغيرهم)

“Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. jika bertakbir mengangkat kedua tangannya hingga sejajar menyamai kedua telinganya.” (HR. Bukhari, Muslim, Nasai, Tirmidzi dan lainnya. Lafazh hadisnya dari Muslim)[4]

Dikuatkan dengan beberapa hadis shahih lain, di antaranya:

1.   Dari jalur Sahabat; Wa`il ibnu Hujr:

أَنَّهُ أَبْصَرَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِيْنَ قَامَ إِلَى الصَّلَوةِ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى كَانَتَا بِحِيَالَ مَنْكِبَيْهِ وَحَاذَى إِبْهَامَيْهِ أُذُنَيْهِ. (رواه البيهقي وأبو داود)

“Bahwasanya dia (Wa`il ibnu Hujr) telah melihat Nabi s.a.w. ketika berdiri untuk shalat mengangkat kedua tangannya hingga sejajar kedua pundaknya, sedangkan kedua ibu jari tangannya sejajar kedua telinganya.” (HR. Baihaqi, Abu Daud)[5]

Hadis masyhur ini juga telah diriwayatkan oleh imam-imam hadis lain seperti: ats-Tsauri, Tsu`bah, Abu Uwanah, Zaidah ibnu Qudamah, Basyar ibnu Mufadhdhal, Ashim ibnu Kulaib dan lainnya.[6] Dalam hadis lain juga dinyatakan:

عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ الْحَضْرَمِيِّ قَالَ: لَأَنْظُرَنَّ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ يُصَلِّي قَالَ فَنَظَرْتُ إِلَيْهِ قَامَ فَكَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى حَاذَتَا أُذُنَيْهِ. (رواه مسلم وأبو داود والنسائي والبيهقي وابن خزيمة وابن حبان وأحمد واللفظ له)

Dari Wa`il ibnu Hujr berkata, “Sungguh aku ingin sekali melihat bagaimana cara Rasulullah shalat. Maka aku melihat dia berdiri (untuk memulai shalat). Lalu bertakbir sambil mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua telinganya.” (HR. Muslim, Abu Daud, Nasa`i, Baihaqi, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah dan Ahmad, lafal darinya)[7]

2.   Dari jalur riwayat Sahabat; al-Barra ibnu Azib:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلَاةَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى تَكُونَ إِبْهَامَاهُ حِذَاءَ أُذُنَيْهِ. (رواه أحمدوأبو داود)

“Rasulullah s.a.w. jika memulai shalat, beliau mengangkat kedua tangannya hingga kedua ibu jarinya sejajar dengan kedua telinganya.” (HR. Ahmad, Abu Daud)[8]

Terkait dengan posisi tangan setinggi telinga ini, beberapa hadis menggunakan redaksi yang agak berbeda sedikit, tapi maksudnya sama. Ini sengaja penulis sampaikan, agar menambah gambaran yang lebih jelas bagi para pembaca, di antaranya adalah menggunakan kalimat:

a.    “Ibu jari tangannya sejajar dengan kedua daun telinganya” (hâdzat ibhâmuhu syahmata udzunaihi). (HR. Ahmad dan Nasa`i)[9]

b.   “Kedua ibu jarinya sejajar dengan kedua telinganya” (ibhâmaihi bi hidzâ`i udzunaihi). (HR. Baihaqi, Ibnu Khuzaimah dan Abu Ya’la)[10]

c.    “Kedua ibu jari tangannya dekat kedua telinganya” (qarîban min udzunaihi). (HR. Abu Daud, Nasa`i, Ahmad, Daraquthni dan Ibnu Hibban)[11]

d.   Kedua tangannya sampai ke ujung bagian atas kedua telinganya” (yablugha bi himâ furu’a udzunaihi). (Abu daud, Nasa`i dan Ahmad)[12]

e.    Kedua tangannya melampaui kedua telinganya (jâwaza bi himâ udzunaihi). (HR. Hakim, Ahmad dan Thabarani)[13]

f.     “Kedua tangannya di hadapan (di samping) ujung bagian atas kedua telinganya” (hiyâla furu’i udzunaihi). (HR. Ahmad, Baihaqi dan Nasa`i)[14]

g.    “Kedua tangannya menyamai kedua telinganya” (sâwâ bi hima udzunaihi). (HR. Daraquthni)[15]

h.   “Mengangkat kedua tangannya kepada kedua telinganya” (yarfa’u yadaihi ila udzunaihi). (HR. Ahmad, Thabarani dan Ibnu Majah)[16]

i.     “Kedua tangannya sejajar dengan kepalanya” (ilâ muhâdzî ra’sihi). (HR. Abu Hanifah dan Malik bin Anas)[17]

3.   Jari-jemari tangan saat takbir tidak dirapatkan dan tidak juga direnggangkan (biasa saja, normal tidak berlebihan), dengan posisi ujung jari menghadap ke atas, sedangkan telapak tangannya menghadap ke arah kiblat. Lihat gambar no. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis shahih ini:

كان إذا قام إلى الصلاة قال هكذا واشار أبو عامر بيده ولم يفرج بين اصابعه ولم يضمها. (رواه البيهقي والحاكم وابن خزيمة في صحيحه)

Nabi s.a.w. jika berdiri untuk shalat seperti ini, –Abu Amir memberi isyarat dengan kedua tangannya– tidak merenggangkan jari-jemari beliau dan tidak pula merapatkannya. (HR. Baihaqi, Hakim dan Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya)[18]

أَشَارَ لَنَا يَحْيَى بْنُ حَكِيمٍ وَرَفَعَ يَدَيْهِ فَفَرَّجَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ تَفْرِيجًا لَيْسَ بِالْوَاسِعِ ، وَلَمْ يَضُمُّ بَيْنَ أَصَابِعِهِ، وَلاَ بَاعَدَ بَيْنَهُمَا، رَفَعَ يَدَيْهِ فَوْقَ رَأْسِهِ مَدًّا. (رواه ابن خزيمة في صحيحه)

“Yahya ibnu Hukaim telah meriwayatkan kepada kami (bahwa), Nabi s.a.w. (dalam bertakbir) mengangkat kedua tangannya sambil merenggangkan jari-jemari beliau dengan kerenggangan yang tidak lebar, juga tidak rapat. (Dalam mengangkat tangan itu) Nabi s.a.w. tidak melebarkan (jarak antara) kedua tangannya (lihat gambar). Beliau s.a.w. mengangkat kedua tangannya di atas kepalanya terbentang.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya)[19]

Ketika mengangkat tangan saat bertakbir, keadaan kedua telapak tangan Rasulullah s.a.w. menghadap ke arah kiblat. Tidak ada perbedaan pendapat dalam masalah ini, sebagaimana disampaikan oleh al-Halabi dalam kitab Syarh Munyat al-Mushalli.[20]

4.   Pengucapan kalimat takbir (awlôhu akbar) tidak mesti keras, maksimal dapat di dengar oleh dirinya sendiri dan orang lain di sebelahnya, kecuali dia sebagai Imam. Nabi s.a.w. bersabda:

Shalat sendiri (munfarid) ataupun ketika seseorang menjadi makmum, maka takbirnya tidak perlu dikeraskan (jahr), cukup dapat didengar oleh dirinya sendiri, maksimalnya dapat didengar oleh orang di sebelahnya yang sedang shalat berjamaah bersamanya. Kecuali dalam shalat Id, maka sunnah bagi makmum untuk juga mengeraskan takbirnya seperti Imam.[21]

عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْحَارِثِ قَالَ صَلَّى لَنَا أَبُو سَعِيدٍ فَجَهَرَ بِالتَّكْبِيرِ حِينَ رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السُّجُودِ وَحِينَ سَجَدَ وَحِينَ رَفَعَ وَحِينَ قَامَ مِنْ الرَّكْعَتَيْنِ وَقَالَ هَكَذَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.(رواه البخاري)

Dari Sa’id bin Al Harits berkata, “Abu Sa’id memimpin kami shalat, dia mengeraskan bacaan takbirnya ketika mengangkat kepala dari sujud, ketika mau sujud, ketika mengangkat (kepala dari sujud) dan ketika bangkit berdiri dari rakaat kedua, setelah itu ia berkata, “Begitulah aku melihat Rasulullah s.a.w.” (HR. Bukhari)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَلَا تُكَبِّرُوا حَتَّى يُكَبِّرَ وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَلَا تَرْكَعُوا حَتَّى يَرْكَعَ وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ قَالَ مُسْلِمٌ وَلَكَ الْحَمْدُ وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا وَلَا تَسْجُدُوا حَتَّى يَسْجُدَ وَإِذَا صَلَّى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا وَإِذَا صَلَّى قَاعِدًا فَصَلُّوا قُعُودًا أَجْمَعُونَ. (رواه أبو داود وأحمد والبيهقي والطبراني)

Dari Abu Hurairah berkata, “Rasulullah shalallahualaihi wa salam bersabda, “Sesungguhnya imam diangkat hanya untuk diikuti, bila ia bertakbir, maka bertakbirlah, dan janganlah bertakbir sampai ia bertakbir. Apabila ia ruku’, maka ruku’lah, dan janganlah rukusampai ia ruku. Dan bila ia mengucapkan, Sami’allahu lima hamidah, maka ucapkanlah, Rabbana wa lakal hamdu”. Apabila ia sujud, maka sujudlah, dan janganlah kalian sujud sampai ia (sudah dalam posisi) sujud. Dan bila ia shalat dengan berdiri maka shalatlah dengan berdiri. Bila ia shalat dengan duduk, maka shalatlah dengan duduk semuanya.” (HR. Abu Daud, Baihaqi , Ahmad dan Thabarani)[22]

Hadist ini menegaskan bahwa, imam wajib diikuti oleh makmum dalam setiap gerakannya dan tidak boleh didahului.

Penjelasan Cara Mengangkat Kedua Tangan

Perlu dikupas di sini tentang posisi tinggi-rendahnya kedua tangan pada saat takbir, agar kita tidak keliru dalam mencontoh cara shalat Rasulullah s.a.w. Karena ada sebagian faham yang mengaku paling sunnah tetapi sebenarnya tidak nyunnah. Mereka mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir di bawah dada, bukan sejajar bahu/pundak!

Sebagaimana disampaikan sebelumnya, cara mengangkat kedua tangan saat takbir adalah dengan cara menyejajarkan kedua telapak tangan dengan kedua telinga, sedangkan kedua badan tangannya (lengan tangan bagian atas dan bawah) sejajar dengan kedua bahu, sambil mengucapkan kalimat “Awlôhu Akbar” (Allahu Maha Besar).

Hadis shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari jalur Malik ibnu Huwairits menjelaskan tata cara Rasulullah s.a.w. dalam mengangkat kedua tangan:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا كَبَّرَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا أُذُنَيْهِ. (رواه البخاري ومسلم وغيرهما واللفظ لمسلم)

“Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. jika bertakbir mengangkat kedua tangannya hingga sejajar menyamai kedua telinganya.” (HR. Bukhari, Muslim dan lainnya. Lafazh hadis ini dari Muslim)[23]

Hadis shahih lain dari jalur Ibnu Umar juga menjelaskan:

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ فِي الصَّلَاةِ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يَكُونَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ. (رواه البخاري ومسلم وغيرهما)

Aku melihat Rasulullah s.a.w. jika berdiri untuk memulai shalat, dia mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua pundaknya. (HR. Bukhari, Muslim dan lainnya)[24]

Kedua hadis shahih tersebut sebenarnya tidak bertentangan, tetapi saling menjelaskan antara satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, berdasarkan kedua hadis shahih ini, maka tata cara kaum muslimin dalam mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir adalah, dengan mengangkat kedua telapak tangannya ke atas hingga sejajar menyamai tinggi telinganya, sedangkan letak lengan, siku, maupun batang tangannya[25] sejajar setinggi pundaknya menyamping. Lihat gambar no.

Posisi ini sebagai bentuk realisasi kedua hadis shahih di atas, sama persis dengan bunyi redaksinya, “mengangkat kedua (telapak) tangannya hingga sejajar menyamai kedua telinganya” dan “mengangkat kedua tangannya (yaitu lengan, siku dan batang tangannya secara umum) sejajar dengan kedua pundaknya.” Lihat gambar no.

Hal ini juga diperkuat dengan beberapa alasan, yaitu:

1.   Hadis “yuhâdzi udzunaihi” (sejajar menyamai kedua telinganya) memberikan pemahaman lebih rinci dan mendetail, ketimbang hadis hadzwa mankibaihi (searah/sejajar dengan pundaknya). Dengan kata lain, hadis pertama memperjelas hadis kedua.

2.   Rasulullah s.a.w. tidak mengatakan “sejajar dengan dada”, tetapi “sejajar ke samping dengan kedua pundaknya”. Perhatikan, pundak/bahu lebih tinggi dari dada. Sedangkan sebagian kaum yang mengaku lebih nyunnah itu melakukannya setinggi “di bawah dada”, bukan “sejajar pundak”. Karena arti tangan bukan hanya telapak tangan. Sedangkan mereka mengartikan tangan hanya telapak tangan saja. Pemahaman seperti itu tentu keliru, apalagi ketika bertentangan dengan banyak hadis shahih. Lihat gambar keliru ini:

3.   Jika posisi kedua telapak tangan benar-benar sejajar berada di depan dada seperti gambar 3, seperti gerakan yang sering dilakukan oleh segelintir orang yang keliru dalam memahaminya, maka redaksi hadisnya akan berbunyi kurang lebih seperti ini:

a.    amâma shadhrihi” (di depan dadanya) atau,

b.   “amâma mankibaihi” (di depan kedua pundaknya) atau,

c.    “nahwa shadrihi” (searah dengan dadanya) atau,

d.   “nahwa mankibaihi (searah dengan kedua pundaknya) atau,

e.    “yuhâdzi shadrihi” (sejajar ke samping dadanya) atau,

Namun pada kenyataannya, redaksi hadis shahih itu berbunyi “yuhâdzi udzunaihi” (sejajar menyamai kedua telinganya). Perhatikan kata “sejajar menyamai kedua telinga” ini yang berarti posisi telapak tangan dapat dipastikan berada “di atas” pundak/bahu dekat telinga. Hanya dalam posisi telapak tangan seperti inilah, letak tangan –yang terdiri dari lengan dan batang tangan) dapat sejajar dengan pundak/bahu, persis seperti redaksi hadisnya. Karena yang dimaksud dengan tangan itu bukan hanya kedua telapak tangan melainkan lengan tangan, batang tangan, dan termasuk kedua telapak tangan. Tolong ini dicamkan! Sebagai contoh, ketika orang bertanya, “Mana tanganmu?” Maka jawabannya pasti seluruh bagian tangan, bukan hanya telapak tangannya. Atau ketika seseorang mengeluhkan tangannya yang patah karena jatuh dari motor, “Aduh, tangan saya sakit sekali!” Apakah hanya telapak tangannya yang sakit, atau justru lengan dan batang tangannya? Begitu juga dengan kalimat “kedua tangan sejajar dengan bahu” pada hadis tersebut, maka yang sejajar semua bagian tangan secara umum. Seperti gambar ini:

4.   Jika hanya telapak tangannya saja yang sejajar dengan dada, lalu bagaimana dengan letak lengan dan batang tangannya? Pasti berada lebih rendah dari kedua telapak tangannya, yaitu berada di bawah dadanya, atau bahkan sejajar dengan perutnya. Lihat gambar no. Maka, ini sangat jauh dari redaksi kedua hadis shahih tersebut yang berbunyi “mengangkat kedua (telapak) tangannya hingga sejajar menyamai kedua telinganya” dan “mengangkat kedua tangannya (yaitu lengan, siku dan batang tangannya secara umum) sejajar dengan kedua pundaknya.”

Jika posisi tangan berada lebih rendah dari pundak seperti gambar 4 tadi, maka redaksi hadisnya akan berbunyi “tahta mankibaihi” (di bawah kedua pundaknya) atau “tahta shadrihi” (di bawah dadanya). Sedangkan Rasulullah s.a.w. tidak meletakkan kedua tangannya di bawah pundak ketika bertakbir, apalagi di bawah dada, seperti yang sering dilakukan oleh jamaah tersebut.

5.   Oleh karena itu, kemungkinan besar, hakikat dari kata “hadzwa mankibaihi” (mengangkat kedua tangannya sejajar lurus dengan kedua pundaknya) bukanlah seperti gambar (…), melainkan seperti ini:

a.    Posisi “kedua telapak tangan” Rasulullah s.a.w. setinggi “kedua daun telinga” sejajar di sampingnya. Sedangkan kedua lengan tangannya setinggi bahu/pundak. Lihat gambar no. 8.

b.   Atau, posisi “kedua telapak tangan” Rasulullah s.a.w. setinggi “kedua daun telinga”, sejajar di sampingnya. Sedangkan kedua lengan tangannya setinggi bahu/pundak. Hanya saja, posisi kedua lengan tangannya itu benar-benar sejajar menyamping dengan sisi kanan dan kiri bahu/pundak.

Perbedaan antara posisi pertama (a) dengan kedua (b) adalah:

Pada posisi pertama, lengan tangannya, utamanya sikut, tidak lurus ke samping, melainkan agak ke depan sedikit (tidak terlalu melebar). Posisi ini cocok dalam shalat berjamaah, khususnya bagi makmum, agar tangannya tidak membentur jamaah di sampingnya ketika takbir.

Sedangkan pada posisi kedua, seluruh lengan tangannya, baik lengan tangan atas maupun bawah termasuk sikut, benar-benar lurus ke samping, sehingga agak melebar. Pada posisi ini, sepertinya otot di belakang pundak menjadi agak kencang akibat adanya tekanan. Posisi ini cocok bagi Imam atau shalat sendirian yang tidak ada orang di sampingnya.

Oleh karena itu, wajar jika kedua hadis tersebut berbunyi “yarfa’u yadaihi hadzwa mankibaihi” (mengangkat kedua tangannya sejajar lurus dengan kedua pundaknya), dan berbunyi “yuhâdzi udzunaihi” (sejajar menyamai kedua telinganya).

Kedua hadis ini dapat terealisasi dengan baik pada dua posisi di atas (poin a dan b). Bentuk seperti inilah yang paling tepat, masuk akal dan sangat sesuai dengan kedua hadis tersebut. Yang berarti kedua hadis tersebut tidak bertentangan, tetapi saling menjelaskan.

Cukup banyak hadis shahih yang menegaskan bahwa, Nabi s.a.w. mengangkat kedua tangannya sejajar kedua telinganya ketika beliau bertakbir. Selain hadis shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim yang sebelumnya telah kita singgung, juga hadis-hadis senada dari para imam hadis (seperti Imam Abu Daud, Nasa`i, Baihaqi, Ahmad, Thabarani, Daraquthni, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Ibnu Majah, Abu Ya’la dan lainnya) tentang “posisi kedua tangan sejajar kedua telinga” yang juga telah kita kupas, sesungguhnya masih cukup banyak hadis yang secara tegas menjelaskan bahwa, Nabi s.a.w. mengangkat kedua tangannya di atas bahu setinggi kepala, di antaranya adalah:

رَفَعَ يَدَيْهِ فَوْقَ رَأْسِهِ مَدًّا. (رواه ابن خزيمة في صحيحه)

Nabi s.a.w. mengangkat kedua tangannya di atas kepalanya terbentang.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya)[26]

Perawi hadis ini (Abu Bakr ibnu Khuzaimah) melanjutkan:

“وَهَذِهِ اللَّفْظَةُ اِنَّمَا هِيَ : رَفْعُ يَدَيْهِ مَدًّا، لَيْسَ فِيْهِ شَكٌّ وَلاَ اِرْتِيَابٌ أَنْ يَرْفَعَ الْمُصَلِّيُ يَدَيْهِ عِنْدَ اِفْتِتَاحِ الصَّلاَةِ فَوْقَ رَأْسِهِ.

“Ucapan dalam hadis tersebut yang berbunyi “Nabi s.a.w. mengangkat kedua tangannya terbentang (di atas kepalanya)” tidak ada keraguan dan kesamaran di dalamnya sama sekali yaitu, dengan mengangkat kedua tangannya di atas kepalanya pada saat memulai shalat.”

Wahai Saudaraku, hadis barusan yang menyatakan Nabi s.a.w. “mengangkat kedua tangannya di atas kepalanya” (maksudnya sejajar kedua telinganya, sebagaimana hadis Imam Bukhari dan Muslim terdahulu) memiliki banyak syahid (hadis-hadis serupa), di antaranya adalah:

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: ثَلَاثٌ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْمَلُ بِهِنَّ قَدْ تَرَكَهُنَّ النَّاسُ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ (فَوْقَ رَأْسِهِ، عِنْدَ اِبْنِ خُزَيْمَةٍ) مَدًّا إِذَا دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ، وَيُكَبِّرُ كُلَّمَا رَكَعَ وَرَفَعَ، وَالسُّكُوتُ قَبْلَ الْقِرَاءَةِ يَسْأَلُ اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ. (رواه البخاري والنسائي والبيهقي والحاكم وأحمد وابن خزيمة وابن حبان وغيرهم)

Abu Hurairah berkata, “Ada tiga hal yang biasa dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. tetapi ditinggalkan oleh orang-orang yaitu: beliau biasa mengangkat (tinggi) kedua tangannya terbentang (setinggi kepala –sebagaimana riwayat Ibnu Khuzaimah) ketika memulai shalat, bertakbir setiap kali akan ruku dan akan bangkit, dan diam sebentar sebelum membaca al-Fatihah (di situ beliau) berdoa memohon karunia Allah.” (HR. Bukhari, Nasai, Baihaqi, Hakim, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dll.)[27]

Para sahabat Nabi s.a.w. dan mayoritas ulama-ulama Salaf juga berpendapat demikian. Sebagaimana dituturkan oleh Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslimnya:[28]

وَأَمَّا صِفَة الرَّفْع فَالْمَشْهُور مِنْ مَذْهَبِنَا وَمَذْهَب الْجَمَاهِير أَنَّهُ يَرْفَع يَدَيْهِ حَذْو مَنْكِبَيْهِ بِحَيْثُ تُحَاذِي أَطْرَاف أَصَابِعه فُرُوع أُذُنَيْهِ أَيْ أَعْلَى أُذُنَيْهِ ، وَإِبْهَامَاهُ شَحْمَتَيْ أُذُنَيْهِ ، وَرَاحَتَاهُ مَنْكِبَيْهِ ، فَهَذَا مَعْنَى قَوْلهمْ : حَذْو مَنْكِبَيْهِ ، وَبِهَذَا جَمَعَ الشَّافِعِيّ رَضِيَ اللَّه عَنْهُ بَيْن رِوَايَات الْأَحَادِيث فَاسْتَحْسَنَ النَّاس ذَلِكَ مِنْهُ.”

“Adapun cara mengangkat (kedua tangan), yang masyhur dalam mazhab kita (mazhab Syafii) dan mazhab mayoritas ulama adalah, mengangkat kedua tangannya sejajar kedua pundaknya, di mana (sejajarnya itu) sejajar dengan ujung jari-jemarinya, yaitu di atas kedua telinganya, kedua ibu jarinya sejajar daun telinganya, dan batang tangannya (yang bagian atas) sejajar pundaknya. Inilah yang dimaksud dengan ucapan mereka (para perawi hadis), “sejajar kedua pundaknya”. Dengan ini, Imam Syafi’i menggabungkan hadis-hadis tersebut, sehingga orang-orang membenarkannya.”

Oleh karena itu, dalam berbagai kitab fikih terkemuka seperti: al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, Fiqh as-Sunnah, Mughni al-Muhtaj, I’anah ath-Thalibin, al-Iqna, as-Siraj al-Wahhab, asy-Syarh al-Kabir, Tuhfatul Muhtaj, Hasyiyah al-Bujairmi, Raudhah ath-Thalibin, Syarh al-Minhaj, Fath al-Wahhab dijelaskan bahwa maksud sejajar bahu ketika takbir adalah seperti ini:[29]

“(حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ) بِحَيْثُ تُحَاذِي أَطْرَافَ أَصَابِعِهِ أَعْلَى أُذُنَيْهِ وَإِبْهَامَاهُ شَحْمَتَيْ أُذُنَيْهِ وَرَاحَتَاهُ مَنْكِبَيْهِ لِلِاتِّبَاعِ الْوَارِدِ مِنْ طُرُقٍ صَحِيحَةٍ مُتَعَدِّدَةٍ.”

(Yang dimaksud dengan) “sejajar bahu” adalah ujung jari-jemari tangan sejajar dengan bagian atas daun telinga, kedua ibu jarinya sejajar dengan anting-anting telinga (syahmah) dan kedua pergelangan tangan bagian atas (rohah) sejajar dengan kedua bahu, dalam rangka mengikuti hadis-hadis shahih dari berbabagi jalan periwayatan.

Posisi seperti ini juga diperkuat dengan posisi letak telapak tangan ketika kita sedang bersujud, yaitu kedua telapak tangan berada di atas pundak sejajar dengan telinga. Di posisi itu, letak telapak tangan ketika bersujud, kurang lebih sama dengan letak telapak tangan ketika kita sedang bertakbir, Lihat gambar no. Pada gambar tersebut, tinggi kedua telapak tangan ketika sujud sama tingginya dengan kedua telapak tangan ketika takbir. Perhatikan secara seksama gambar sujud jika posisinya diberdirikan. Lihat gambar no.

Posisi seperti ini, yakni letak telapak tangan pada waktu takbir sama dengan ketika sujud dijelaskan oleh hadis shahih yang berbunyi:

عن وائل بن حجر قال : أتيت المدينة ، فقلت : لأنظرن إلى صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم « فرأيته حين افتتح الصلاة كبر فرفع يعني يديه فرأيت إبهاميه بحذاء أذنيه » ، فذكر بعض الحديث ، وقال : «ثم هوى فسجد ، فصار رأسه بين كفيه مقدار حين افتتح الصلاة»

Dari Wail ibnu Hujr berkata, “Aku datang ke Madinah. Kukatakan, Aku ingin sekali melihat shalat Rasulullah s.a.w. Maka aku melihat beliau s.a.w. ketika memulai shalat, dia bertakbir mengangkat kedua tangannya. Aku melihat kedua ibu jarinya sejajar kedua telinganya.” Lalu Wail menyebutkan sebagian hadis itu dan berkata, “Kemudian Rasulullah s.a.w. turun sujud, maka kepalanya berada di antara kedua telapak tangannya sama (posisinya) dengan ketika beliau memulai shalat.”

Lihatlah, begitu jelas redaksi hadis di atas menyatakan “Kemudian Rasulullah s.a.w. turun sujud, maka kepalanya berada di antara kedua telapak tangannya sama (posisinya) dengan ketika beliau memulai shalat” yakni, posisi kedua telapak tangan sama-sama berada di samping kepala (telinga) pada saat berdiri takbir maupun ketika sujud.

Sedangkan cara mengangkat tangan seperti gambar ini (di depan dada) tidak sesuai dengan hadis shahih yang menyatakan “maddan” (terbentang), sebab cara seperti itu malah menguncup (menyempit) bukan membentang!

 



[1] Sunan Abu Daud, bab Fardhu l-Wudhu no. 56, 1/88. Sunan at-Tirimidzi, bab Ma Ja`a anna Miftahu sh-Shalah ath-Thuhur no. 3, 1/7. Sunan Ibnu Majah, bab Miftahu sh-Shalah ath-Thuhur no. 271, 1/323. Musnad Ahmad, bab Wa min Musnad Ali no. 957, 2/463. Hadis ini juga dishahihkan oleh Imam Hakim.

[2] Shahih Muslim, bab Wadh'u Yadihi l-Yumna 'ala l-Yusra ba'da akbirati l-Ihram tahta Shadrihi fauqa surratihi, no. 608, jilid 2 hal. 366. Hadis senada juga diriwayatkan oleh Abu Daud, Baihaqi, Darimi, Ibnu Khuzaimah dan lainnya.

[3] Shahih Muslim, bab Istihbab Raf'ul Yadain Hadzwal Mankibain, no. 587, jilid 2 hal. 339. Sunan Abu Daud, bab Raf'u l-Yadain fi sh-Shalat, no. 620, jilid 2 hal 383.

[4] Shahih al-Bukhari, bab Raf’u l-Yadain idza Kabbara no. 695, 3/175. Shahih Muslim, bab Istihbab Raf’i l-Yadain Hadzwa l-Maqkibain no. 589, 2/341. Sunan an-Nasa`i, bab Raf’u l-Yadain Hiyala l-Udzunain no. 870, 3/417. Sunan ad-Darimi no. 1298, 4/5.

[5] Sunan al-Kubra li al-Baihaqi 2/25. Sunan Abu Daud, bab Raf’u l-Yadain fi Sh-Shalah no. 622, 2/385. Lihat juga Subul as-Salam pada Raf’u l-Yadain fi Awwali sh-Shalah 2/76.

[6] Lihat: Sunan al-Kubra li al-Baihaqi vol. 2, hal. 25.

[7] Shahih Muslim, bab Wadh’u Yadihi l-Yumna ‘ala l-Yusra no. 608, 2/366. Sunan Abu Daud, bab Raf’u l-Yadain fi sh-Shalah no. 625, 2/388. Musnad Ahmad, bab Hadits Wa`il bin Hujr no. 18115, 38/331. Shahih Ibnu Hibban, bab Shifat ash-Shalah no. 1892, 8/213. Shahih Ibnu Khuzaimah, bab Wadh’u l-yamin ‘ala sy-Syimal no. 462, 2/299.

[8] Musnad Ahmad, bab Hadits ul-Barra bin Azib no. 17926, 38/113. Sunan Abu Daud, bab Man lam Yadzkuri r-Raf’a ‘inda r-Ruku’ no. 640, 2/406.

[9] Musnad Ahmad, bab Hadits Wa`il bin Hujr no. 18094, 38/310. as-Sunan al-Kubra li an-Nasa`i no. 956, 1/308.

[10] as-Sunan al-Kubra li al-Baihaqi 2/25. Shahih ibnu Khuzaimah, bab Wadh’u l-yamin ‘ala sy-Syimal no. 461, 2/298. Musnad Abu Ya’la al-Mousuli, bab Iftataha sh-Shalah Rafa’a Yadaihi no. 1623, 4/229.

[11] Sunan Abu Daud, bab Man lam Yadzkuri r-Raf’a ‘inda r-Ruku’ no. 640, 2/406. HR. Sunan an-Nasa`i, bab Makan ul-Yadain mina s-Sujud no. 1090, 4/272. Musnad Ahmad, bab Hadits al-Barra bin Azib no. 17953, 38/140. Sunan ad-Daraquthni, bab Dzikri t-Takbir wa Raf’i l-Yadain no. 1136, 3/245. Shahih ibnu Hibban, bab Shifat ush-Shalah no. 1979, 8/379.

[12] Sunan Abu Daud, bab Min Dzikri annahu Yarfa’ Yadaihi idza Qama, no 636, 2/401. Sunan an-Nasa`i, bab Raf’u l-Yadain li r-Ruku’ Hidza`a Furu’i Udzunaihi, no, 1014, 4/142. Musnad Ahmad, bab Hadits Malik bin al-Huwairits no. 15051, 31/200.

[13] al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain li al-Hakim, bab Yarfa’u Yadaihi hatta Jawazata Udzunaihi, no. 738, 2/287. Musnad Ahmad, bab Hadits Abdullah bin az-Zubair no. 15517, 32/327. al-Mu’jam al-Kabir li ath-Thabarani no. 8, 18/364. al-Musnad al-Jami li Abu al-Fadhl no. 5801, 18/267.

[14] Musnad Ahmad, bab Baqiyyatu HHHhadits Malik bin al-Huwairits no. 19630, 41/492. Sunan al-Kubra li al-Baihaqi 2/25. Sunan an-Nasa`i no. 954, 1/307.

[15] Sunan ad-Daraquthni, bab Dzikri t-Takbir wa Raf’i l-Yadain no. 1143, 3/254. Lihat juga: Nashbu ar-Rayah fi Takhrij Ahadits al-Hidayah, bab Shifat ash-Shalah 2/362.

[16] Musnad Ahmad, bab Baqiyyah Hadits Malik bin al-Huwairits no. 19626, 41/488. al-Mu’jam al-Kabir li ath-Thabarani no. 17514, 15/400. Sunan Ibnu Majah, bab Raf’u l-Yadain idza Raka’a no. 858, 3/105.

[17] HR. Abu hanifah: Syarh Musnad Abu Hanifah 1/493.

[18] as-Sunan al-Kubra li al-Baihaqi 2/27, Mustadrak ‘ala ash-Shahihain li al-Hakim: bab Amma Hadits Anas 2/373 no. 821 dan dia menyatakan sanad hadis ini shahih. Shahih ibnu Khuzaimah: bab Nasyr al-Ashabi’ ‘inda Raf’i al-Yadain 2/274 no. 446.

[19] Shahih Ibnu Khuzaimah, bab Nasyr al-Ashabi’ ‘inda Raf’i al-Yadain, no. 446, jilid 2 hal. 274.

[20] Ibrahim ibnu Muhammad ibnu Ibrahim al-Halabi: Syarh Munyat al-Mushalli, Kementerian Wakaf Kuwait (masih berupa manuskrif tersimpan di Idarat al-Makhthuthat, dapat diunduh di www.wadod.com/ bookshelf/ book/444), 2007, hal. 300. Lihat juga kitab Zad al-Ma’ad, jilid 1 hal. 256.

[21] Dalam Mazhab Maliki justru sebaliknya, termasuk sunnah (mandub) untuk mengeraskan bacaan Takbiratul Ihram, baik ketika sebagai imam, makmum ataupun ketika shalat sendiri (munfarid). Lihat: Hasyiyah ad-Dasuqi karya Syaikh Muhammad Arafah ad-Dasuqi, pada pembahasan Fara`idh ash-Shalat, Dar al-Fikr Beirut, jilid 1 halaman 244. Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaily: al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, jilid 2 halaman 914.

[22] Sunan Abu Daud, bab al-Imam Yushalli min Qu’ud, 2/224: 511. Musnad Ahmad, Musnad Abu Hurairah 17/188: 8146. Sunan Kubra li al-Baihaqi 3/93. al-Mu’jam al-Kabir li ath-Thabarani 19/444: 1062.

[23] Shahih al-Bukhari, bab Raf’u l-Yadain idza Kabbara no. 695, 3/175. Shahih Muslim, bab Istihbab Raf’i l-Yadain Hadzwa l-Maqkibain no. 589, 2/341.

[24] Shahih al-Bukhari, bab Raf’u l-Yadain idza Kabbara no. 694, 3/174. Shahih Muslim, bab Istihbab Raf’i l-Yadain no. 587, 2/339.

[25] Yang dimaksud batang tangan di sini adalah, lengan tangan bagian atas.

[26] Shahih Ibnu Khuzaimah, bab Nasyr al-Ashabi’ ‘inda Raf’i al-Yadain, no. 446, jilid 2 hal. 274.

[27] Al-Qiraah Khalfa al-Imam li al-Bukhari, bab Man Qaraa fi Saktat al-Imam idza kabbara, no. 169, jilid 1 hal 176. Sunan an-Nasa`i, bab Raf'u al-Yadain Maddan, no. 873, jilid 3 hal. 422. As-Sunan al-Kubra li al-Baihaqi, jilid 2 hal. 195. Mustadrak 'ala ash-Shahihain li al-Hakim, no. 738, bab Yarfa' Yadaihi hatta Jawazata Udzunaih, jilid 2 hal. 287. Musnad Ahmad, bab Musnad Abu Hurairah, no. 9235, jilid 19 hal. 278. Shahih Ibnu Khuzaimah, bab Nasyr al-Ashabi’ ‘inda Raf’i al-Yadain, no. 446, jilid 2 hal. 274. Shahih Ibnu Hibban, no. 1807, bab Shifat ash-Shalat, jilid 8 hal. 47.

[28] Lihat juga dalam kitab: Subul as-Salam, bab Raf’u l-yadain fi Awwali sh-Shalah, 2/76. Tuhfah al-Muhtaj fi Syarh al-Minhaj, bab Shifat ash-Shalah 5/311.

[29] Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh pada pembahasan Raf’u al-Yadain (Mengangkat Tangan) jilid 2 halaman 58, Fiqh as-Sunnah pada pembahasan Sunan ash-Shalat (Sunah-Sunah Shalat) jilid 1 halaman 142, Mughni al-Muhtaj pada pembahasan Shifat ash-Shalat (Sifat Shalat) jilid 1 halaman 152, I'anah ath-Thalibin pada pembahasan Shifat ash-Shalat (Sifat Shalat) jilid 1 halaman 134, Iqna pada pembahasan Arkan ash-Shalat (Rukun-rukun Shalat) jlid 1 halaman 132, as-Siraj al-Wahhab pada pembahasan Fashl fi Istiqbal al-Qiblat jilid 1 halaman 42, asy-Syarh al-Kabir jilid 3 halaman 269, al-Wasith jilid 2 halaman 97, Tuhfatul Muhtaj fi Syarh al-Minhaj pada bab Shifat Shalat jilid 5 halaman 311, Hasyiyah al-Bujairmi pada pembahasan Arkan ash-Shalat jilid 4 halaman 196, Raudhah ath-Thalibin pada pembahasan Raf'u al-Yadain 'inda at-Takbir jilid 1 halaman 231, Syarh al-Minhaj jilid 3 halaman 269, Fath al-Wahhab pada pembahasan Shifat Shalat jilid 1 halaman 71.

Sample Text

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget